Artikel

Faqih dalam Agama Bag.6

Abul Hasan Abdul Malik Al Maimun berkata; Ada seorang pria berkata kepada Abu ABdullah, ‘Saya pernah mengikuti Al Bazzar untuk menasehatinya. (Sebab) telah sampai berita kepada saya bahwa dia menyampaikan sebuah hadits dari Abu Al Ahwash dari Abdullah, dia berkata: “Allah tidak menciptakan sesuatu yang lebih besar daripada ,,,, dan seterusnya”. Saat itu dia menyebutkan […]

Faqih dalam Agama Bag.6 Read More »

Faqih dalam Agama Bag.5

Dari Ali bin Muhammad bin Aban Al Qadhi; kami mendapatkan kabar dari Abu Yahya Zakaria As Saaji, kami mendapatkan kabar dari Al Muzani, dia berkata dalam hati, “Andai saja ada seseorang yang bisa menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan tauhid yang ada dalam hatiku, maka tidak ada orang lain selain Imam Syafi’i”. Lalu saya pergi menemui

Faqih dalam Agama Bag.5 Read More »

Faqih dalam Agama Bag.4

Bila melihat isi dari surat Abddullah Al Umari (ahli ibadah) kepada imam (madzhab) Malik, setidaknya dapat diambil pelajaran bahwa orang berilmu itu lebih satu tingkat daripada ahli ibadah. Setidaknya bisa difahami dari riwayat berikut ini: Disebutkan oleh Ibnu bin Abdil Bir dalam kitabnya “Al Ilmu”; Ibnu Wahab berkata, “Perintah pertamaku adalah beribadah sebelum ilmu, maka

Faqih dalam Agama Bag.4 Read More »

Faqih dalam Agama Bag.3

Ada hal menarik dari sebuah kejadian dialog (walau via surat menyurat) antara seorang ahli ibadah dengan seorang ahli ilmu namun mengamalkan ilmunya. Berikut teksnya: Al Hafidz bin Abdil Bir dalam kitab “At Tamhiid”, menyebutkan; “Saya tuliskan ini dari hafalan saya, karena buku aslinya tidak ada pada saya”.   ‘Sesungguhnya Abdullah Al Umari –seorang ahli ibadah- menulis

Faqih dalam Agama Bag.3 Read More »

Faqih dalam Agama Bag.2

Ini adalah suatu pesan untuk para talibil ilmi (pencari/penuntut ilmu). Dan pesannya sangat mendalam sebenarnya. Yakni agar mengikhlaskan niat hanya kepada Allah Ta’ala semata. Jangan sampai menuntut ilmu syar’i namun diiringi keinginan agar kelak diacungi jempol karena banyak ilmunya. Atau menuntut ilmu karena untuk membalas dendam disebabkan pernah ‘dijatuhkan’ saat berdebat. Na’udzubillah! Ini juga pesan

Faqih dalam Agama Bag.2 Read More »

Faqih dalam Agama

Hari ini banyak orang yang tertipu dengan melihat hanya dari satu sisi saja. Seperti masalah keilmuan, misalnya. Karena memang dalam Islam, yang namanya orang faqih itu tidak hanya dilihat dari sisi keilmuannya saja melainkan dilihat dari banyak sudut. Kalau hanya melihat dari sisi keilmuan saja maka sebenarnya pada zaman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam di

Faqih dalam Agama Read More »

Zuhud Terhadap Ketenaran 10

Dari Yusuf bin Asbath, saya mendengar Sufyan berkata, “Aku tidak pernah melihat kezuhudan yang lebih sulit daripada kezuhudan terhadap kekuasaan. Kita bisa dapati orang zuhud dalam hal makanan, minuman, harta, dan pakaian. Namun kalau kita berikan kepadanya kekuasaan, dia akan mempertahankannya dan berani bermusuhan membelanya”. Terdapat pada kitab Siyaru A’laamin Nubalaa’ 7/262. Ya, pernyataan sesuai

Zuhud Terhadap Ketenaran 10 Read More »

Zuhud Terhadap Ketenaran 9 b

Dalam pepeatah bahasa Indonesia disebutkan: pucuk cinta ulampun tiba. Sungguh  pepatah ini sangat tidak berlaku para salafush shalih. Ya, ketika sebuah jabatan itu datang menghampiri bukannya diambil tetapi justru dihindari dan dibuang. Hal itu sebagaimana yang dialami oleh Abu Burdah. Yaitu ketika ada seorang gubernur yang menawarinya sebuah jabatan maka segera dia tolak. Sebab baginya

Zuhud Terhadap Ketenaran 9 b Read More »

Zuhud Terhadap Ketenaran 9 a

Bila di atas telah ditunjukkan contoh kasus yang terjadi pada diri pendahulu dari salafush shalih, yakni para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Maka berikut ini adalah contoh nyata dari salafush shalih dari generasi berikutnya. Sebagaimana disebutkan dari Ahmad bin Abdurrahman bin Wahab; kami mendapatkan kabar dari paman saya, saya mendapatkan kabar dari Abdullah bin

Zuhud Terhadap Ketenaran 9 a Read More »

Zuhud Terhadap Ketenaran 8

Bila melihat para penguasa hari ini lalu membandingkan dengan para generasi salafush shalih maka perbandingannya seperti langit dan bumi. Ya, bila mau jujur, para penguasa hari ini kebanyakan berasal dari para pengusaha.  Pertanyaannya: mungkinkah (sebagai pengusaha), mereka ramai-ramai tertarik masuk ke dunia politik praktis. Lalu setelah menjadi menguasa mereka tidak ‘tertarik’ untuk membuat kebijakan-kebijakan yang

Zuhud Terhadap Ketenaran 8 Read More »

Call Now Button