Dari Abdul Wahab bin Aziz At Tamimi Al Hanbali, dia berkata, ‘Telah mengkabarkan kepada kami Abul Husain Al ‘Ataki, dia berkata, ‘Saya mendengar Ibrahim Al Harbi mengajukan pertanyaan kepada banyak orang di majlis; “Siapakah yang kalian anggap orang asing di zaman kalian?”.
Lalu ada seorang laki-laki menjawab, “Orang asing adalah orang yang jauh dari halamannya”.
Yang lain berkata, “Orang asing adalah orang yang meninggalkan orang-orang yang dicintainya”.
Maka Ibrahim berkata, “Orang asing di zaman kita adalah orang yang shalih, hidup di tengah-tengah yang yang shalih. Ketika dia menyuruh kepada yang ma’ruf, maka mereka saling menguatkannya, dan ketika dia melarang perbuatan yang mungkar, maka mereka membantunya. Dan jika dia butuh sesuatu dari kebutuhan dunia, maka mereka menyediakan untuknya. Namun ketika dia meninggal dunia, maka mereka meninggalkannya”. Terdapat pada kitab Siyaru A’laamin Nubalaa’ 13/362.
Dari pernyataannya Ibrahim Al Harbi seakan membingungkan bukan?
Padahal yang dimaksud beliau tentang orang asing adalah orang yang memililki ilmu agama yang bisa menerapkan ilmunya di tengah-tengah masyarakat tanpa harus melalui pertentangan yang keras –hanya karena masalah khilafiyah-.

Namun begitu ketika orang asing ini melihat masyarakatnya melakukan suatu kemaksiatan maka cara orang asing ini mencegahnya pun tidak sampai membuat masyarakat yang melakukan kemaksiatan merasa tersinggung berat hingga menimbulkan rasa dendam yang tidak berkesudahan.
Jadi orang asing itu bukanlah orang yang memiliki ilmu agama yang tinggi dan banyak, lulusan dari luar negeri tetapi setiapkali berbicara malah menimbulkan masalah. Yang mudah menuduh sebagai ahli bid’ah, dan selalu menakut-nakuti masyarakat dengan neraka.
Bukankah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam juga sering mengingatkan tentang neraka? Namun kenyataannya ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam menyampaikan tentang bahaya dan kengeriannya di neraka, ternyata tidak menimbulkan persoalan dan perkara di tengah para sahabat dan penduduk Madinah, bukan?
Dari Abdullah bin Amru bin ‘Ash radliyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shalallahu ‘alaihii wqa salam, beliau bersabda, “Teman terbaik di sisi Allah adalah mereka yang terbaik dalam berinteraksi dengan temannya. Dan tetangga terbaik di sisi Allah adalah mereka yang terbaik dalam berinteraksi dengan tetangganya”.
Pada hadits lain disebutkan; Abdullah bin Umar radliyallahu ‘anhuma, dia berkata, ‘Saya telah mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Berapa banyak tetangga yang akan memegang tangan tetangganya di hari Kiamat sambil berkata, “Wahai Rabb-ku, orang ini menutup pintunya dariku dan dia enggan memberi apa yang dia mililki”. Hadits Hasan Lighairihi.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
