Pendidikan Para Sahabat Bag.7
c. Utsman bin Affan radliyallahu ‘ahu.
Utsman bin Affan, selain kader inti dalam pembinaan dakwah, beliau juga orang paling beruntung. Yakni beliau menjadi menantu Rasulullah dua kali.
Maksudnya beliau menikahi kedua putrinya Rasulullah (walaupun tidak dalam satu masa). Yang pertama Ruqayyah. Setelah Ruqayyah meninggal Utsman menikahi putri Rasulullah berikutnya bernama Ummu Kultsum.
Utsman bin Affan setidaknya telah menorehkan sejarah Islam. Salah satunya beliau telah membeli sumur milik Yahudi. Karena ketika musim kemarau kaum muslim kekurangan air dan mereka kebingungan dalam mencari air.

Sementara di pihak yang lain ada seorang Yahudi yang memiliki sumur yang sangat melimpah airnya.
Begitu mengetahui bahwa kaum muslimin membutuhkan air maka orang Yahudi itu menjualnya kepada kaum muslimin.
Melihat hal itu Utsman langsung turun tangan dengan mendatangi orang Yahudi, si pemilik sumur tersebut. Setelah terjadi dialog, maka terjadilah jual beli antara si Yahudi dengan Utsman bin Affan.
Setelah kepemilikan sumur berpindah tangan maka Utsmanpun mengumumkan kepada muslimin Madinah bahwa sekarang sumur itu sudah menjadi milikny akaum muslimin. Maka setiap muslim diperbolehkan mengambil air secukupnya.
d. Ali bin Abi Thalib radliyallahu ‘anhu.
Selain sebagai menantu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, Ali juga memiliki andil besar dalam kancah persatuan Islam. Dan hal ini menunjukkan bahwa Ali bin Abu Thalib juga termasuk dalam barisan generasi inti dalam didikan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.
Salah satu kebijakan beliau yang fenomenal adalah tatkala beliau menjadi seorang khalifah, sementara di wilayah lain ada sahabat Rasulullah yang lain berselisih dengan beliau.
Sahabat yang berselisih dengan Ali adalah Mu’awiyah. Ketika Ali bin Abu Thalib diangkat menjadi khalifah, beliau mencanangkan pengembalian keamanan secara umum di seluruh negeri Islam.
Sementara Mu’awiyah menghendaki agar menyelidiki orang dan aktor dibalik pembunuhan khalifah ketiga, Utsman bin Affan radliyallahu ‘anhu.
Nah karena pada waktu tertentu tidak ada titik temu akhirnya terjadilah dua kubu yang makin berseteru. Yakni kubu Ali dan kubu Mu’awiyah. Bahkan ‘Aisyah pun juga ikut berseberangan dengan khalifah Ali bin Abu Thalib.
Aisyah bahkan keluar Madinah dengan membawa pasukan hendak menuntut atas terbunuhnya Utsman bin Affan.
Mengetahui keluarnya ‘Aisyah maka Ali bin Thalib segera mengutus utusan untuk menemui ‘Aisyah. Dalam pesannya Ali mengatakan bahwa Ali siap menghadapi jika ‘Aisyah mau bertemu terlebih dahulu dengan khalifah Ali.
Setelah disanggupi ‘Aisyah maka pertemuanpun segera digelar. Dalam pertemuan itu khalifah Ali hanya mengingatkan tentang hadits Rasulullah yang dahulu juga pernah didengar ‘Aisyah.
Adapun isi hadits itu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam mengatakan bahwa barangsiapa yang membunuh Ali maka dia di neraka.
Begitu mendengar hadits itu ‘Aisyah pun segera teringat. Lalu ‘Aisyah langsung menarik diri dari rencana awal untuk mendesak menuntut mengusut dalang pembunuh Utsman dan mendukung semua keputusan Ali bin Abu Thalib.
Kemudian kepulangannya ‘Aisyah dan pasukannya pun dikawal oleh pasukannya Ali bin Abu Thalib.
Sementara di pihak lain, Mu’awiyah juga sama. Di lapangan (akar rumpur) memang sempat terjadi pertumpahan darah sesama kaum muslimin. Apalagi Mu’awiyah didukung oleh dua sahabat paling nonjol. Apalagi keduanya juga sudah dijamin masuk surga, Thalhah dan Zubair bin Awwam.
Lalu bagaimana dengan khalifah Ali bin Abu Thalib sebagai salah satu generasi inti dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam?
Ternyata Ali mampu menyelesaikan konflik internal ini dengan sangat gemilang. Yakni Ali tetap keluar dengan pasukannya. Beliau sendiri juga memakai baju besi yang menandakan siap bertempur.
Maka tidak heran bila di tengah jalan ada yang mencegat perjalanan Ali dan pasukannya dengan menanyakan apakah Ali tetap akan berperang melawan Mu’awiyah? Padahal di barisan Mu’awiyah ada Thalhah dan Zubair, yang keduanya telah mendapat jaminan surga.
Dengan sangat bijak dan santun Ali menjawab pertanyaan pencegat itu dengan kalimat yang sangat fenomenal juga, الْـحَـقُّ لَا تُـعْرَفُ بِالـرِّجَـالِ اِعْـرِفِ الْحَـقْ تَعْـرِفُ أَهْـلُهُ (kebenaran itu tidak –bisa- dillihat dari sosok –figuritas-, ketahuilah Al Haq secara difinitif maka engkau akan mengetahui siapa yang benar).
Tetapi setelah mengucapkan perkataan itu bukan berarti Ali langsung berperang melawan Mu’awiyah. Melainkan Ali juga mengutus utusan untuk menemui Mu’awiyah, Thalhah dan Zubair.
Terkhusus Thalhah dan Zubair. Setelah bertemu keduanya, lalu Ali menyampaikan hal yang sama dengan yang disampaikan oleh ‘Aisyah radliyallahu ‘anha.
Setelah diingatkan tentang hadits di atas maka Thalhah dan Zubair pun akhirnya menarik diri dari pasukan Mu’awiyah.
Dan tidak lama setelah itu terjadilah perjanjian damai antara Ali dengan Mu’awiyah. Tetapi anehnya sampai saat ini sejarah ini dibelokkan dengan tujuan agar selalu saja umat Islam selalu berpecah.
Apakah karena si pembelok sejarah itu bukan dari generasi inti didikan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam? Yang pasti generasi inti didikan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam itu tidak ingin adanya perpecahan ditengah umat.
Wallahu a’lam.
Oleh: Abu Ibrahim
Sedang mencari karpet untuk masjid, masjid atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, Permadani dan Karpet Kantor Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet
