Pendidikan Para Sahabat Bag.8

Pendidikan Para Sahabat Bag.8

6. Sangat sayang terhadap para sahabat.

Mungkin untuk yang satu ini sangat berbeda dengan para guru di seantero bumi ini. Baik untuk para guru maupun pemimpin. Lihat saja dari keumumannya para guru atau pemimpin hari ini.

Yakni mereka suka membuat soal yang membuat para murid kebingungan. Atau pemimpin yang selalu membuat suatu aturan yang justru membuat anggota tidak bisa berkutik.

Hal ini justru berkebalikan dengan sistem Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam yang diterapkan kepada para muridnya (baca; para sahabat). Beliau tahu betul semua karakter dan pribadi para muridnya. Sehingga beliau selalu tepat setiapkali memberikan tugas-tugas kepada mereka.

pendidikan para sahabat nabi

Lalu bagaimana cara beliau mengetahui sampai segitunya? Ternyata beliau mengetahui seluk beluk muridnya karena cara memandang dan bersikap beliau terhadap para sahabat (murid)nya. Sebagaimana firmanNya:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ.

Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Qs. At Taubah 128.

Begitu penyayangnya Rasulullah terhadap para muridnya. Sehingga Rasulullah harus benar-benar faham ketika hendak ‘memberi’ suatu tugas kepada seseorang dari mereka. Kenapa?

Agar mereka sanggup ketika mengerjakan tugas-tugas yang dibebankan kepada mereka. Jadi Rasulullah tidak mau memberikan tugas kepada sahabatnya yang sekiranya memberatkan atau bahkan di luar kesanggupan sahabatnya tersebut.

Itu artinya bahwa beliau sangat faham betul setiap kemampuan para sahabatnya satu persatu. Sebab beliau memang sejak awal mendidik para sahabat selalu mengedepankan sisi-sisi kasih sayang beliau kepada para muridnya. Dengan begitu maka beliau mampu menyerap setiap kemampuan para muridnya.

Sebagai contoh kecil saja:

a. Mus’ab bin Umair.

Seusai terlaksananya Bai’ah Aqabah pertama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam mengutus Mus’ab bin Umair untuk pergi ke Yatsrib bersama orang-orang Yatsrib. Tugasnya adalah menyampaikan dakwah Islam kepada penduduk Yatsrib dan mempersiapkan Yatsrib sebagai tempat hijrah kelak.

Itu artinya bahwa tugas Mus’ab sangat berat. Beliau bukan sekedar seorang juru dakwah saja melainkan juga pelobi, atau kalau bahasa hari disebut diplomat. Bekankah Mus’ab juga pernah terancam nyawanya ketika menjalan tugas di Yatsrib?

Sungguh, seandainya bukan seorang diplomat tentu nyawa beliau sudah melayang. Dan yang lebih dahsyat lagi adalah bahwa Mus’ab sanggup meyakinkan penduduk Yatsrib mau menerima Rasulullah ketika kelak Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam hijrah ke sana. Plus mau mengangkat Rasulullah sebagai pimpinan mereka.

Bukan Rasulullah seorang non pribumi? Karena statusya sebagai seorang muhajir. Tetapi karena kelihaiannya seorang Mus’ab bin Umair.

b. Mu’adz bin Jabbal.

Sahabat yang satu ini memiliki talenta berbeda dengan Mus’ab bin Umair. Beliau ahli tentang matematika dan faham tentang ajaran nasrani. Makanya sahabat Mu’adz bin Jabbal ini diutus Rasulullah ke Yaman.

Selain diutus sebagai juru dakwah sahabat Mu’adz juga mengajarkan kepada masyarakat Yaman dengan perdagangan yang beradab dan bernuansa sosial; zakat.

Sebab sebagaimana diketahui bahwa umumnya umatnya nasrani selalu diperintahkan para menghulu agamanya mereka untuk mengumpulkan dana mereka ke gereja tetapi umatnya tidak diperhatikan.

Nah ketika Mu’adz bin Jabbal datang dengan membawa misi dakwah seperti di atas maka banyak orang-orang nasrani yang masuk Islam. Dan ketika harta zakat mereka dikumpulkan dan dikelola oleh Mu’adz ternyata hasilnya surplus. Luar biasa bukan?

c. Khalid bin Walid.

Namanya tidak asing di telinga umat Islam. Dan Khalidlah yang mendapatkan gelas saifullah (pedang Allah). Pada tiap peperangan yang dikomandaninya selalu mendapatkan kemenangan gemilang

Hingga musuhpun bila hendak melakukan peperangan melawan umat Islam lalu diketahui bahwa komandan perangnya adalah Khalid maka musuh langsung ngeper, surut nyali.

Mereka sudah beranggapan; pasti kalah! Itulah Rasulullah, sang pendidik yang lebih mengedepankan rasa kasih sayangnya hingga menghasilkan orang-orang ahli dalam bidangnya masing-masing.

Seperti Saad bin Abi Waqqash dan Khalid bin Walid sebagai komandan militer, Bilal bin Rabbah sebagai muadzin, Abu Bakar Ash Shiddiq dan Umar bin Khaththab sebagai pemimpin masa depan. Kesemuanya tidak ada ‘tertukar’.

Wallahu a’lam.

Oleh: Abu Ibrahim

Pendidikan Para Sahabat Bag.9

Sedang mencari karpet untuk masjid, kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, Permadani dan Karpet Kantor Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet

Call Now Button