Kisah Nabi Ibrahim Bag.2
Sesampainya di suatu lembah –sesuai dengan petunjuk Allah- maka berhentilah nabi Ibrahim dengan keluarga kecilnya. Di sana nabi Ibrahim mendirikan tenda hanya sekedar untuk berteduh dari teriknya panas matahari yang sangat garang nan gersang. Sebab lambah itu adalah lembah tandus lagi gersang dan –sejauh mata memandang- penuh dengan hamparan pasir.
Anehnya setelah semua perbekalan diturunkan nabi Ibrahim justru berencana pergi meninggalkan keluarga kecilnya di tengah ganasnya gurun pasir yang tidak berpenghuni lagi tandus.
Dan langkahnya nabi Ibrahim terhenti ketika istrinya, Hajar, memberikan pertanyaan, “Apakah engkau akan meninggalkan kami berdua sendirian?”
Nabi Ibrahim tidak bergeming. Tetapi saat istrinya melontarkan pertanyaan, “Apakah ini atas perintah Allah?”.
Langkah nabi Ibrahim terhenti seketika saat mendengar pertanyaan dari istrinya. Kemudian menoleh ke belakang dan hanya menganggukkan kepalanya saja. Lalu melanjutkan perjalanannya untuk kembali ke istri pertamanya, Sarah.
Sebelum nabi Ibrahim jauh melangkah Hajar pun berucap, “Kalau ini perintah Allah pasti kami tidak akan menemukan kendala yang berarti”.

Mendengar ucapan istrinya membuat hatinya nabi Ibrahim terasa sejuk. Maka nabi Ibrahimpun merasa ringan saat meninggalkan istri keduanya, Hajar, dan bayi kecilnya, Ismail.
Sungguh sebuah drama kehidupan nyata dalam sebuah keluarga yang diterangi dengan ruh tauhid uluhiyah. Hingga membuat nabi Ibrahim maupun istrinya bukan menjadi orang tua yang cengeng. Melain justru menjadi manusia tegar yang sedang mendidik putranya tercinta, Ismail.
Betapa tidak?
Sudah berapa tahun nabi Ibrahim mendambakan seorang anak yang kelak (diharapkan) akan menjadi generasi penerus dakwahnya. E e e malah sekarang mendapatkan perintah agar dibawa ke lembah yang tandus lagi gersang. Tanpa pepohonan lagi.
Tetapi itulah, ujian yang harus nabi Ibrahim jalani. Beliau harus merelakan berpisah dengan bayinya yang sedang enak-enaknya dicium, dipandang, digendong dan sebagainya.
Sementara itu istrinya, Hajar, juga sama. Hajar rela ditinggalkan suaminya hanya demi mengharapkan ridla dari Allah Ta’ala saja. Dan kekuatan tauhid uluhiyahnya-lah kekuatan jiwanya.
Jadi bukan sekedar tauhid rububiyah (pengakuan) dan asma’ wa sifat saja, melainkan ini sudah pada tingkat praktek (tauhid uluhiyah).
Dan sepeninggal suami, nabi Ibrahim, Hajar biasa-biasa saja menimang-nimang bayinya yang lucu.
Namun dengan berjalannya waktu perbekalan yang dibawakan oleh nabi Ibrahim semakin lama semakin menipis dan habis juga akhirnya. Walhasil, hal itu mempengaruhi produksi ASInya yang diperuntukkan khusus Isnail, bayinya.
Dan benar, ASInya pun tidak lama kemudian habis!
Tentu semuanya bagaimana bila seorang bayi sedang kelaparan sedangkan ASI ibunya tidak lagi keluar. Hal itu juga tidak jauh berbeda dengan bayi Ismail. Dia menangis sejadi-jadinya.
Dari tangisannya inilah yang ahienya membuat hati seorang ibu berusaha untuk mencari asupan sebagai makanan agar ASInya kembali produksi.
Maka berdirilah Hajar lalu memandang ke sekeliling. Siapa tahu ada sesuatu yang bisa dimakan.
Saat pandangannya mengarah ke bukit Soffa, dilihatnya seakan ada bayangan air yang menggelitik hati Hajar untuk melangkahkan kakinya ke sana.
Benar saja. Hajar berlari-lari kecil menuju ke bukit Soffa. Harapannya di sana akan mendapatkan air untuk diminum. Supaya ASInya bisa kembali produksi. Ternyata sesampainya di bukit Soffa, bayangan air yang dilihatnya tadi ternyata tidak ada.
Lalu Hajar melihat ke arah lain dengan harapan yang sama. Nah saat pandangannya terarah ke bukit Marwa, pandangan matanya seakan melihat ada bayangan air di sana. Maka segeralah Hajar berlari-lari kecil ke bukit Marwa. Namun ternyata hasilnyapun sama dengan yang ada di bukit Soffa. Nihil!
Namun Hajar tidak putus asa. Beliau segera mengarahkan pandangannya ke seluruh penjuru. Dan ternyata di bukit Soffa kembali seperti terlihat ada bayangan air. Maka segeralah Hajar kembali berlari-lari kecil menuju bukit Soffa.
Begitulah seterusnya hingga Hajar bolak balik dari bukit Soffa ke Marwa dan sebalilknya hingga tujuh kali.
Setelah ketujuh kalinya gagal (tidak mendapatkan air) maka hajar kembali ke tempat bayinya, Ismail diletakkan. Akan tetapi keajaiban justru terjadi. Yaitu munculnya air yang begitu melimpah.
Hajarpun bersyukur kepada Allah Ta’ala.
Subhaanallah. Ternyata upayanya Hajar untuk mencari sesuap makanan atau seteguk minuman tidak sia-sia.
Wallahu a’lam.
Oleh: Abu Ibrahim
Lanjutan: Kisah Nabi Ibrahim Bag.3
Sedang mencari karpet untuk masjid, kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, Permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
