Ujian Ibrahim Bag.3

Kisah Nabi Ibrahim Bag.3

Subhaanallah. Hajar, sebagai seorang hamba Allah yang telah yakin akan janji itu tidak sekedar berpangku tangan atau maksimal mengangkat tangannya untuk berdo’a kepada Allah sambil menagih janjiNya yang ‘katanya’ akan memberinya rezeki. Melainkan Hajar berlari-lari kecil (karena kemampuan seorang wanita yang saat itu sedang menyusui) berusaha untuk mencari rezeki Allah.

Maka dari itu Allah di kemudian hari membuat suatu kententuan haji agar semua calon jamaah haji melakukan ritual berlari-lari kecil sebagaimana dahulu Hajar berlari-lari kecil dari bukit Soffa ke bukit Marwa sebanyak tujuh kali.

Kisah Nabi Ibrahim

Jadi seandainya para calon jamaah haji ketika melaksanakan ritual berlari-lari kecil itu selain melafalkan do’a-do’a talbiyah mereka mengingat kisah Hajar yang berusaha dalam mencari makanan demi bayi mungilnya. Subhaanallah. Pasti akan terasa bagaimana kedekatan dan kepasrahan hajar kepada Allah ta’ala.
-000-

Begitu tahu kalau ada air dari bawah kaki bayinya Ismail, maka yang terucap pertama kali adalah rasa syukur kepada Allah Ta’ala. Baru kemudian seakan berbicara sendiri dengan mengatakan agar air itu berkumpul.

Tidak hanya itu, Hajar segera membuat semacam bendungan agar air itu tidak mengalir kemana-mana.

Inilah sebuah ikhtiar yang sebelumnya diiringi dengan keyakinan (karena nabi Ibrahim meninggalkannya karena atas perintah Allah) bahwa Allah akan selalu menjaganya. Akan tetapi keyakinan bahwa Allah selalu menjaganya itu bukan berarti harus berdiam diri kemudian nanti Allah (tahu-tahu) akan menjatuhnya makanan di hadapannya. Melainkan tetap harus berusaha dan ikhtiar.

Walhasil upaya Hajar berhasil. Air yang keluar dari bawah kakinya Ismail ternyata berubah menjadi sumur, yang kemudian disebut dengan sumur zamzam. Dan dari sumur zamzam itulah akhirnya Hajar bisa minum hingga mampu memunculkan ASInya kembali tentunya.

Lalu dari sumur zamzam itu pula akhirnya banyak burung yang minum di sana. Hal itu menjadi magnet tersendiri bagi para musafir –terutama para saudagar- untuk sekedar singgah dan meminta air kepada Hajar yang dianggap sebagai pemilik sumur air zamzam itu.

Kemudian sebagai tanda terima kasihnya merekapun memberikan oleh-oleh atau makanan kepada Hajar dan Ismail.

Lama kelamaan ada orang-orang yang ingin hidup di sana berdampingan dengan Hajar dan Ismail. Alasannya dikarenakan adanya sumur zamzam. Walhasil lembah tandus yang tadinya tidak berpenghuni itu lama kelamaan justru menjadi perkampungan.

Kalau dahulunya lembah itu disebut lembah Bakka, di kemudian hari berubah menjadi lembah Makkah. Sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah ta’ala:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ.

Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Qs. Ali Imran 96.

Akhirnya dengan berlalunya waktu Hajar dan Ismailpun tidak hidup sendirian. Dan –kembali lagi- inilah tauhid uluhiyah yang tertancap ke dalam sanubari. Yang membuat Allahpun juga tidak segan-segan memberikan kenikmatanNya sangat berlimpah kepada siapa saja yang mempercayainya. Terutama Hajar dan Ismail tentunya.

Wallahu a’lam.

Oleh: Abu Ibrahim

Lanjutan: Kisah Nabi Ibrahim Bag.4

Sedang mencari karpet untuk masjid, kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, Permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button