Luqman Bag.7

Nasihat Luqman Kepada Anaknya Bag.7

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأمُورِ.

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Qs. Lukman 17.

Nasihat Luqman Kepada Anaknya

Pelajaran selanjutnya adalah shalat, amar ma’ruf dan nahi mungkar serta bersabar terhadap apa yang menimpa pada diri seorang muslim.

Inilah urutan yang sangat tepat yang telah diterapkan oleh seorang Lukman sebagai seorang master sebagai seorang pendidik.

Ini sangat berbeda dengan kebanyakan manusia dewasa ini. Yakni anak-anak didiknya diajarkan terlebih dahulu tentang tata cara shalat dan thaharah. Lalu urusan tauhid uluhiyah diundurkan atau bahkan mungkin ada yang jarang disentuh.

Hal ini sangat berbeda dengan konsep dari Lukman. Beliau justru mengedepankan tauhid uluhiyah terlebih dahulu baru kemudian urusan shalat, amar ma’ruf dan nai mungkar serta bersabar terhadap apa saja yang menimpanya. Kenapa?

Sebab apabila pengajarannya lebih dahulukan tentang tata cara shalat, thaharah, amar ma’ruf dan nahi mungkar. Maka seringnya hal itu hanya sebatas di atas konsep. Sebab dalam hati anak didik belum tersentuh ruhiyah/jiwanya.

Bukankah di negeri ini sudah sejak lama para pelajarnya telah mendapatkan pelajaran tentang tata cara shalat beserta hukum-hukumnya, thaharah serta amar ma’ruf dan nahi mungkar?

Tetapi kenapa saat ini berita tentang korupsi tidak pernah usai? Padahal pelajaran keagamaan telah diajarkan. Terutama masalah-masalah di atas. Juga kenapa berita-berita tentang kemungkaran tidak pernah selesai diberitakan. Bahkan selalu saja silih berganti di berbagai tempat.

Hal itu disebabkan pendidikan ruhiyahnya kosong. Sehingga yang muncul justru jiwa-jiwa yang kosong dari rasa terpantau dari Allah Ta’ala.

Lebih tragisnya lagi justru anak-anak didik itu lebih sering diarahkan kepada hal-hal yang bersifat materi.

Jadi di sinilah letak perbedaan yang sangat mencolok dan bersebrangan dari sisi pendidikan Lukman dengan pendidikan hari ini.

  • Jika pendidikan Lukman mendahulukan ruhiyah (tauhid uluhiyah) terlebih dahulu baru kemudian (setelah mantap tauhid uluhiyahnya) masuk ke pendidikan shalat, amar ma’ruf – nahi mungkar dan bersabar atas yang menimpa pada dirinya.

Jadi shalat, amar ma’ruf – nahi mungkar dan sabar itu benr-benar akan menyertainya. Sebab mereka melaksanakan perintah itu bukan karena atas dorongan iming-iming keduniaan. Melainkan rasa takutnya mereka kepada Allah Ta’ala. Mereka sangat takut untuk melakukan pelanggaran (baik urusan dunia amupun akhirat). Hal itu sebagaimana yang sudah ditanamkan pada diri pada tiap anak didiknya.

  • Sedangkan pendidikan hari ini yang lebih didahulukan justru hal-hal yang bersifat materi. Seperti kelak bila sudah lulus dari sekolah akan mendapatkan nilai keduniaan berupa begini dan begitu.

Hal itu akan membuat anak didik dalam hatinya akan terpatri tentang ‘kenikmatan dunia’ yang fana ini. Sehingga perkara ubudiyah (baik shalat, amar ma’ruf – nahi mungkar) itu hanya sekedar sebagai bahan formalitas saja.

Sebab dalam hati mereka tidak memiliki rasa takut kepada Allah Ta’ala yang Maha Mengetahui.

Walhasil pendidikan ruhani amat sangat penting untuk aebuah pendidikan. Sebagaimana yang Lukman lakukan terhadap anak didiknya.

Wallahu a’lam.

Oleh: Abu Ibrahim

Lanjutan: Nasihat Luqman Kepada Anaknya Bag.8

Sedang mencari karpet untuk masjid, kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, Permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button