Suatu ketika sahabat Mu’adz radliyallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, “Apakah kami akan dituntut dari apa yang kami ucapkan?”.
Beliau menjawab, “Kamu ini bagaimana, apakah ada yang menjerumuskan manusia ke dalam neraka kalau bukan hasil dari lisan-lisan mereka?”. Diriwayatkan Tirmidzi, hadits hasan shahih.
Inilah mahalnya harga sebuah surga. Yakni yang pertama kali (untuk menebusnya) adalah; harus membersihkan dada (hati) dan menjaga lisan, khususnya terhadap orang-orang yang beriman.
Yakni jangan sampai lisan ini mampu ‘membunuh’ saudaranya muslim lainnya, atau tidak mudah iri dan dengki terhadap saudara muslim lainnya. Atau justru seharusnya merasa senang bila mengetahui/melihat saudaranya muslim lainnya mendapatkan kegembiraan. Sebagaimana para sahabat Anshar yang mendatangi sahabat Muhajirin lalu berkata, “Apabila kalian sedang mendapatkan keburukan atau kesusahan berbagilah bersama kami. Tetapi apabila kalian sedang mendapatkan kebahagiaan maka nikmatilah sendiri”.

Subhaanallah!
Maka tidak heran bila Abdullah Azzam berwasiat agar selalu menjaga hati dan lisan serta harus selalu berlapang dada. Sebab orang-orang yang dipilih AllahTa’ala untuk menjadi syuhada’ adalah orang yang selalu memiliki ciri khusus dan tabi’at yang sangat membedakannya dengan yang lain. Yaitu selamat (bersih) hatinya. Keikhlasan mereka membuat mereka mampu menahan lisannya. Kemudian mereka lebih banyak menggunakan anggota badannya untuk beramal dan tidak banyak berbicara atau sekedar bersenda gurau. Apalagi sampai mengucapkan perkataan yang dapat melukai perasaan, memfitnah, mencela atau mencaci maki saudara-saudaranya sesama muslim.
Hal ini pula yang dijelaskan secara panjang lebar oleh Abdullah Azzam dalam bukunya TARBIYAH JIHADIYAH. Yakni ketika beliau menguraikan tentang surat Al Hujuraat 11-12 yang berkaitan dengan dasar pembentukan masyarakat muslim yang menjadi wasilah bagi kesempurnaan iqaamatuddin (menegakkan agama) dalam lingkup individu maupun jama’i (jama’ah). Maka jika suatu masyarakat yang terbentuk dari banyak individu tidak akan mungkin terwujud jika tidak ada ikatan yang erat, tertalian (tali persaudaraan) yang kuat serta hubungan yang mendalam antar individunya. Di mana semuanya itu hanya tegak di atas landasan mahabbah/kasih sayang.
Sementara itu larangan-larangan yang disebutkan Ar Rahman dalam kedua ayat tersebut merupakan hal-hal yang memporak porandakan mahabbah dalam hati setiap muslim.
Wallahu a’lamu bish shawaab
By: Abu Ibrahim

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
