g. Berbuat baik terhadap orang yang didengkinya.
Ini memang sangat sulit dilakukan atau bahkan ada juga yang mengatakan “sesuatu yang aneh”, atau “sesuatu yang di luar nalar”, atau “sesuatu yang tidak mungkin terjadi”, atau perkataan atau pendapat lainnya.
Tentu tidak bisa dibayangkan bukan? Terapi yang satu ini adalah berbuat baik terhadap orang yang didengkinya. Subhaanallah. Ini sungguh luar biasa!
Adalah Abu Bakar Ash Shiddiq dan Umar bin Khaththab radliyallahu ‘anhuma, suatu ketika keduanya pernah terjadi sedikit perselisihan. Hingga keduanya saling mempertahankan ‘ego’nya. adapun ringkasan kisahnya sebagai berikut:
Abu Darda’ bercerita, “Ketika aku sedang duduk-duduk bersama Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam, tampak Abu Bakar datang sambil mengangkat bagian bawah pakaiannya hingga tututnya kelihatan”.

Sementara di pihak lain, rupanya Umar bin Khaththab juga menyesal karena tidak memaafkan Abu Bakar. Karena itulah dia mendatangi rumah Abu Bakar dan bertanya kepada keluarganya, “Apakah Abu Bakar ada?”.
Mereka menjawab, “Tidak ada”.
Maka Umarpun datang menemui Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dan memberi salam.
Melihat kedatangannya, raut wajah Nabi berubah (karena marah) sampai-sampai Abu Bakar iba kalau-kalau beliau memarahi Umar. Abu bakar pun berlutut dan memohon, “Wahai Rasulullah, demi Allah, aku yang telah berbuat dhalim (kepada Umar)”.
Abu Bakar mengatakannya hingga dua kali.
Dalam kondisi demikian beliau bersabda, “Allah Azza wa Jalla mengutusku kepada kalian kemudian kalian mengatakan, “Engkau (Muhammad) dusta”.
Namun Abu Bakar berkata, “Dia (Muhammad) benar (tidak dusta)”. Dia telah melindungiku dengan diri dan hartanya. Bisakah kalian membiarkan sahabatku ini bersamaku?”. (maksudnya tidak melukai hatinya).
Beliau mengatakannya dua kali. Maka, setelah kejadian itu, Abu Bakar tidak pernah disakiti lagi. hadits Shahih Bukhari.
Kisah kasus di atas semoga bisa menjadi ibrah (pelajaran) tentang bagaimana dua sahabat dekat, tahu-tahu ada sedikit perselisihan hingga meruncing. Tetapi ketika kedua menyadarinya bahwa masing-masing dari keduanya telah mempertahankan egonya masing-masing, akhirnya keduanya mengakhirinya dengan cara masing-masing dari keduanya menyalahkan dirinya sendiri. Dengan begitu amat sangat mudah kedua untuk saling memaafkan. Subhaanallah!
Yang perlu diingat lagi bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam pernah bersabda, “Tidaklah seorang dari kalian sempurna imannya sampai mencintai untuk saudaranya sesuatu yang dia cintai untuk dirinya”. Muttafaqun ‘Alaihi.
Ibnu Rajab berkata, “Dan yang demikian itu termasuk tingkatan iman yang tertinggi, dan pelakunya adalah orang yang sempurna imannya, yang mencintai bagi saudaanya apa yang dia cintai bagi dirinya”.
Wallahu a’lau bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
