Tentang Anak Yatim

Tentang Anak Yatim

Semua orang pasti tidak menginginkan dirinya menjadi yatim sejak kecil. Sebab mana enak hidup tanpa orang tua? Terlebih seorang bapak yang sebenarnya mampu memberikan nafkah kepada anak-anaknya. Tetapi ketika Allah berkehendak lain maka semua keceriaan itu berubah.

Semua anak-anaknya berubah statusnya menjadi yatim. Yang mungkin tadinya memiliki impian untuk menggapai suatu cita kelak, kini harus dikubur. Sebab tiada bapak yang seharusnya memikirkan dan menghantarkan cita-citanya.

Jangankan menggapai cita, untuk makan harian saja mulai saat itu mungkin terkadang juga masih belum tahu. Maka bisa dibayangkan bagaimana masa depannya bukan?

tentang anak yatim

Dalam keadaan seperti itulah Islam hadir untuk menyelamatkan masa depan mereka. Dalam ayat-ayatNya banyak dijumpai tentang anjuran untuk menyantuni anak-anak yatim.

Selain untuk membantu menggapai cita mereka yang mungkin serasa runtuh, juga untuk mengayomi jiwa mereka yang rapuh. Bahkan dalam haditsnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam juga mengatakan bahwa kelak di akhirat antara beliau dengan orang yang menyantuni anak-anak yatim seperti dua jari telunjuk dengan jari tengah.

Hal itu menandakan bahwa beliau juga sangat sayang kepada anak-anak yatim. Namun ternyata menyantuni dan memelihara anak yatim itu tidak mudah.

Setidaknya dia harus menjaga keikhlasan dan niat yang setiap saat harus diasah. Sebab jika tidak maka kasihan anak-anak yatim itu. Malah takutnya bisa menjadi korban.

Sebab hari ini sepertinya apa yang ditakutkannya sudah terjadi, walau tidak banyak. Seperti ada anak-anak yatim yang ditampung, disekolahkan bahkan hingga dewasa.

Tetapi yang terjadi kemudian si anak yatim ini kurang dekat dengan keluarga besarnya. Baik dari pihak ibu ataupun bapaknya. Atau ada juga yang ketika si anak yatim ini sudah mulai dewasa ternyata harta peninggalan orang tuanya sudah habis.

Atau ada juga yang menampung anak-anak yatim ini yang ikut “menikmati” hasil uluran tangan para muhsinin yang memang sebenarnya mereka berinfak atau sedekah untuk anak-anak yatim.

Oleh karena itulah makanya Allah dalam firmanNya sudah memberikan rambu-rambu agar orang-orang yang menyantuni anak-anak yatim ini memisahkan harta mereka untuk disimpan.

Lalu diberikan kepada mereka kelak ketika mereka sudah dewasa dan sudah mampu mengelola harta peninggalan (warisan) dari orang tuanya.

Maka waspadalah agar kita tidak termasuk dari orang-orang yang mensia-siakan anak-anak yatim.

Wallahu a’lam.

Oleh: Abu Ibrahim

leader banner alhidayat karpet
Call Now Button