Beberapa pertanyaan seputar (keinginan) taubat.
Jika mau men-zoom dari orang-orang yang pernah “melakukan kesalahan”, ternyata dalam benaknya banyak pertanyaan yang mengganjal sehingga mereka terkadang tertunda taubatnya. Di antaranya;
a. Bagaimana taubatnya seorang pencuri?
Taubatnya bagi para pencuri adalah; mengembalikan semua barang-barang yang sudah dicurinya. Termasuk perampokan, misalnya.
b. Lalu bagaimana jika si pencuri (apalagi si perampok) sudah lupa dengan jumlah, jenis barang dan bentuk barang/benda yang dicuri atau yang dirampoknya. Karena bukan hanya seorang saja rumah yang dicuri atau bukan hanya seorang saja yang dirampok?

Dia harus secara jantan datang ke rumah orang-orang yang sudah dicuri atau mendatangi orang-orang yang sudah dirampoknya. Lalu katakan bahwa dirinya dahulu pernah melakukan pencurian atau perampokan terhadap penghuni rumah situ. Dan katakan juga bahwa sebenarnya dirinya hendak mengembalikan barang-barang yang dulunya pernah dicuri atau uang yang dulunya pernah dirampok. Tetapi karena begitu banyaknya dirinya mencuri/merampok maka dirinya harus secara terang-teranan dan gentle meminta maaf serta meminta keridlaannya karena perbuatannya di masa lalunya.
c. Lalu bagaimana jika ternyata orang yang pernah dirampok atau rumahnya pernah dibobol (dicuri) tidak terima?
Bila ternyata hal itu terjadi maka rayulah bagaimana caranya agar orang-orang yang pernah didlaliminya itu ridla dan memaafkan perbuatan dirinya di masa lalu.
Masih ingatkah bagaimana dahulu dengan seorang bernama Idris bin Abbas? Ya, dia adalah ayah dari seorang yang ternama di hampir seluruh dunia. Beliau adalah ayahnya Imam Syafi’i, salah satu imam madzhab dalam Islam.
Sebenarnya kisahnya sangat remeh bila ditelusuri, tetapi ternyata sangat bermakna di kemudian hari. Berikut kisah singkatnya;
Idris bin Abbas adalah pemuda biasa saja, bahkan mungkin bisa disebut pemuda agak kurang mampu dari segi finansial. Suatu ketika Idris muda ini istirahat di bawah pohon dekat sungai karena usai bekerja.
Begitu bangun dari istirahatnya dia lihat ada buah yang ikut terbawa aliran sungai tersebut. Karena perutnya keroncongan maka diambillah buah tersebut yang ternyata buahnya hanya sebagian saja yang bisa dimakan. Sebab sebagian lainnya telah dimakan oleh hewan pemakan lainnya (semacam ulat).
Ditengah makannya itu Idris muda teringat bahwa buah tersebut pasti memiliki pemilik yang harus diminta keikhlasannya agar buah yang sebagian sudah terlanjur masuk perutnya itu menjadi halal.
Maka Idris langsung berdiri dan langsung menyusuri sungai untuk mencari pemilik pohon buah tersebut.
Setelah melihat pohonnya dan kebetulan ada orang tua yang sedang bersih-bersih di kebun tersebut. Masuklah Idris muda ke dalam pekarangan lalu menceritakan perihal buah yang dimakannya. Lalu Idris muda meminta untuk keikhlasannya agar buah yang terlanjur dimakannya menjadi halal.
Begitu mendengar cerita itu, sang bapak tadi memandang Idris muda. Dalam benaknya berfikir bahwa anak muda ini pasti orang shalih. Maka bersiasatlah si bapak ini dengan mengatakan bahwa dirinya tidak ikhlas kecuali Idris muda harus melakukan dua hal.
Hal (syarat) pertama dikemukakannya. Yakni Idris muda harus mau menjaga kebunnya selama sebulan ranpa diupah kecuali hanya dikasih makan harian saja.
Setelah sebulan penuh menjaga, Idris muda mendatangi sang bapak sambil mengatakan bahwa dirinya telah menyelesaikan ‘tuntutan’nya.
Sang bapaknya kemudian mengajukan hal (syarat) yang kedua, yakni harus menikahi anak gadisnya yang buta, tuli dan bisu.
Sungguh, Idris muda sama sekali tiada mau melaksanakan syarat kedua kecuali hanya agar buah yang terlanjur termakan itu halal. Maka demi menjaga kehalalan makanan yang masuk ke dalam perutnya itulah akhirnya Idris mau menikahi anak gadisnya yang ‘cacat’ tersebut.
Namun setelah akad nikah terjadi dan Idris muda disuruh menemui anak gadis yang sekarang sudah menjadi istrinya.
Betapa kagetnya Idris ketika mengetahui bahwa terhanya hanya ada seorang wanita cantik jelita yang tidak buta, tuli dan bisu.
Singkat cerita; dari hasil pernikahan itulah akhirnya lahir anak yang di kemudian hari menjadi orang yang kesohor di seluruh dunia. Dialah imam Syafi’i rahimahullah.
Jadi, gentlelah wahai orang-orang yang pernah berbuat kemaksiatan untuk mau menemui orang-orang yang dahulu pernah disatroni lalu dicuri barang-barangnya. Sebab keridlaan dari pemiliknya akan mendatangkan keberkahan.
Wallahu a’lamu bish shawaab.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan
