Susah Taubat? Bag.33
Contoh kasus orang yang telah membunuh pada masa salaf dan ingin menebus dosanya: (a)
Berikut ini kisah nyata yang pernah terjadi pada masa Umar bin Khaththab radliyallahu ‘anhu.
Suatu hari khalifah Umar bin Khaththab sedang duduk-duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di sekelililngnya ada beberapa sahabat sedang asyik mendiskusikan sesuatu.
Tiba-tiba datanglah tiga orang pemuda. Dua pemuda memegangi seorang pemuda lusuh yang diapit oleh kedua pemuda tersebut. Ketika sudah berhadapan dengan Umar, kedua pemuda yang ternyata kakak beradik itu berkata: “Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai amirul mukminin. Qisaslah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini!”.

Umar segera bangkit dan berkata: “Bertaqwalah kepada Allah, benarkah engkau membunuh ayah mereka, wahai pemuda?”.
Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata: “Benar, wahai amirul mukminin”.
Ceritakanlah kepada kami kejadiannya”, kata Umar.
Pemuda lusuh itu kemudian memulai bercerita: “Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku mempercayakan aku untuk suatu urusan muamalah untuk ku selesaikan di kota ini.
Sesampainya aku di kota ini, ku ikat untaku pada sebuah pohon kurma lalu ku tinggalkan dia (unta). Begitu kembali, aku sangat terkejut melihat seorang laki-laki tua sedang menyembelih untaku, rupanya untaku terpelas dan merusak kebun milik laki-laki tua itu.
Sungguh aku sangat marah, segera ku cabut pedangku dan ku bunuh dia (laki-laki tua tadi). Tenyata dia adalah orang tua dari kedua pemuda ini”.
“Wahai amirul mukminin, engkau telah mendengar ceritanya, kami bisa mendatangkan saksi untuk itu”, kata pemuda yang ayahnya dibunuh.
“Tegakkanlah had Allah atasnya!”, timpal yang lain.
Umar tertegun dan bimbang mendengar cerita si pemuda lusuh itu.
“Sesungguhnya yang kalian tuntut ini adalah pemuda shalih lagi baik budinya. Dia membunuh ayah kalian karena khilaf, kemarahan sesaat”, kata Umar.
‘Izainkan aku meminta kalian berdua memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan diyat (tebusan) atas kematian ayah kalian”, lanjut Umar.
“Maaf, amirul mukminin. Kami sangat menyayangi ayah kami, dan kami tidak akan ridha jika jiwa belum dibalas dengan jiwa”, kata salah seorang pemuda itu.
Umar semakin bimbang. Di hatinya telah tumbuh simpati kepada si pemuda lusuh yang dinilainya amanah, jujur dan bertanggung jawab.
Tiba-tiba si pemuda lusuh itu berkata, “Wahai amirul mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah qisas atasku. Aku ridha dengan ketentuan Allah.
Namun izinkan aku menyelesaikan urusan kaumku. Berilah aku tangguh tiga hari. Aku akan kembali untuk diqisas”.
“Mana bisa begitu”, ujar kedua pemuda yang ayahnya dibunuh.
Umar bertanya kepada si pemuda lusuh, “Nak, tak punyakah kamu kerabat atau kenalan untuk mengurus urusanmu?”.
“Sayangnya tidak ada, wahai amirul mukminin”, jawab pemuda lusuh itu.
“Bagaimana pendapatmu jika aku mati membawa hutang pertanggung jawaban kaumku bersamaku”, pemuda lusuh itu balik bertanya kepada Umar.
“Baik, aku akan memberimu waktu tiga hari. Tapi harus ada yang mau menjaminmu, agar kamu kembali untuk menepati janji”, kata Umar.
insyaAllah berlanjut edisi berikutnya.
Wallahu a’lamu bish shawaab.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
