Susah Taubat? Bag.13
Efek negatif dari maksiat dan dosa:
Kelima: Malas dalam ketaatan.
Inilah akibat buruk yang ditakuti para salaf, yakni ketika perbuatan maksiat dan dosa dilakoni secara terus menerus maka akan berefek pada malas untuk melakukan ketaatan kepada Allah. Hal itu tidak jauh berbeda dengan memakan sebuah makanan yang mengandung racun (maksiat dan dosa).
Sehingga ketika racun itu masuk ke dalam tubuh maka akan membuat tubuh menjadi lemah dalam beraktifitas.

Begitu juga dengan perbuatan maksiata dan dosa. Yakni ketika maksiat dan dosa dilaksanakan maka akan berimbas pada malasnya untuk melakukan ibadah dan kebaikan (kema’rufan).
Keenam: Hilang keberkahan.
Berapa sih umur manusia? 60? 70? 80?
Padahal bila usia sudah menginjak angka enam puluh ke atas maka kondisi tubuhpun akan semakin menurun bukannya bertambah kuat. Lalu bagaimana jika sejak masa muda hingga usia enam puluh ke atas masih saja melakukan maksiat dan dosa?
Padahal di usia yang sudah mulai senja itu umumnya manusia ingin memetik hasil positif dari tanaman yang ditanam pada usia muda. Namun jika ternyata semasa hidupnya hanya diisi dengan maksiat dan dosa. Apakah tanamannya bisa dipetik? Tentu tidak bukan?
Cobalah lihat Iamam Nawawi yang hanya Allah beri umur yang sangat pendek, yakni sekitar tiga puluh tahun. Tetapi walaupun pendek usianya ternyata Imama Nawawi benar-benar memanfaatkan usianya itu dengan kebaikan. Setidaknya ada sebuah karya beliau yang hingga saat ini masih banyak digunakan oleh kaum muslimin, yakni Kitab Riyidhush Shalihin dan Hadits Arba’in.
Maka benarlah Allah dalam firman-Nya: Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan masehat menasehati supaya menetapi kesabaran. Qs. Al ‘Ashr 1-3.
Ketujuh: Sedikitnya taufik.
Taufik itu selalu berkaitan dengan hidayah. Tetapi menurut pemahaman bahasa Indonesia dikatakan bahwa taufik itu berkesesuaian dua hal; keehndak Allah dengan keinginan diri seseorang.
Maknanya bahwa taufik (keinginan seseorang) itu realitanya sering berkesesuaian dengan kehendak Allah. Misal, seorang pelaku maksiat dan dosa tentu tidak mungkin dia berkeinginan bisa taubat kecuali dia harus meninggalkan dunia kemaksiatan dan dosanya.
Nah bila orang tersebut benar-benar meninggalkan dunia kemaksiatan dan dosanya tentu Allah akan memberinya hidayah. Tetapi sebaliknya, bila orang tersebut sama sekali tidak mau meninggalkan perilaku maksiat dan dosanya maka mana mungkin hidayah akan mendatanginya.
Syu’aib berkata, “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya aku daripada-Nya rezeki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-Nya)? dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali”. Qs. Huud 88.
Wallahu a’lamu bish shawaab.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
