Sendau Gurau Yang Terukur Bag.16
4. Membuat murka Allah Ta’ala.
Bila di atas membahas efek negatif dari istihza’ yang membuat kerenggangan hubungan antar manusia –baik hanya sekedar orang perorang maupun antar masyarakat bahkan suku dan agama-. Ternyata ada juga efek negatif dari istihza’ ini yang membuat murkanya Allah Ta’ala.
Lihat saja bagaimana Abdullah bin Salul, si tokoh munafik, yang karena istihza’nya akhirnya justru Allah bukakan kedoknya yang tersenbunyi dalam hatinya.
إذَا جَآءَكَ الْمُنَـافِقُوْنَ قَالُوْا نَشْـهَدُ إِنَّـكَ لَرُسُوْلُ اللهِ، وَاللهُ بَعْـلَمُ إِنَّـكَ لَرَسُوْلُـهُ، وَاللهُ يَشْـهَدُ إِنَّ الْمُنَـافِـقِـيْنَ لَكَـاذِبُوْنَ. اتَّـخَذُوْا أَيْـمَانَـهُمْ جُنَّـةً فَصَدُّوْا عَنْ سَبِـيْلِ اللهِ، إِنَّـهُمْ سَآءَ مَاكَانُوْا يَعْـمَلُوْنَ. ذَلِكَ بِأَنَّـهُمْ آمِنُوْا ثُـمَّ كَـفَرُوْا فَطُبِـعَ عَـلَى قُـلُوْبِهِـمْ فَـهُـمْ لَأ يَفْـقَهُوْنَ. وَإِذَا رَأَيْـتَهُـمْ تُعْـجِبُـكَ أَجْسَامُـهُـمْ، وَإِنْ يَـقُوْلُوْا تَسْمَـعْ لَقَـوْلِهِـمْ كَـأَنَّـهُمْ خُشُبٌ مُّسَـنَّدَةٌ، يَحْـسَبُوْنَ كُلَّ صَيْـحَةٍ عَـلَيْهِـمْ، هُـمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُـمْ، قَاتَـلَهُمُ اللهُ أَنَّى يُؤْفَكُوْنَ.
Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu memang benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah; Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orag munafik itu benar-benar pendusta. Mereka itu menjadi sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti. Dan apabila kamu melilhat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinsakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?. Qs. Al Munafiqun 1-4

Ayat ini turun sebagai jawaban kemunafikannya Abdullah bin Ubay bin Salul yang telah dengan sengaja melakukan istihza’ terhadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Yaitu ketika dalam perjalanan pulang dari peperangan, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam memerintahkan pasukannya untuk beristirahat di daerah bernama Muraisi.
Seperti biasa, begitu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam memerintah untuk bersitirahat maka segera para pasukan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam membuat tenda untuk istirahat di sana. Dan seperti biasanya juga para prajurit –seusai- membuat tenda- mereka bergegas mencari air. Begitu juga halnya saat itu.
Hanya saja saat itu sempat terjadi perselisihan kecil antara kaum muhajirin dan anshar. Perselisihan itu dipicu oleh senggolan ketika mengambil air di mata air; antara Jahjah Al Ghifari, orang upahan Umar bin Khaththab radliyallahu ‘anhu, dan Sinan bin Wabar Al Juhani, salah seorang sahabat Anshar.
Tetapi sebenarnya kasus itu sudah diselesai oleh Rasulullah shallahu ‘alaiihi wa salam langsung. Namun Abdullah bin Ubay bin Salul menggunakan kesempatan itu untuk mengadu domba di kalangan kaum muslimin.
Maka setelah Rasulullah pergi meninggalkan mereka, karena dirasa urusannya sudah selesai dan dapat dilerai, beliaupun segera pergi.
Tapi ternyata justru kepergiannya beliau itulah dimanfaatkan Abdullah bin Ubay bin Salul. Yakni dia mendatangi golongan Anshar dengan mengatakan:
ثَـمِّنْ كَـلْبَـكَ يَـأْكُلْ كَ
Gemukkanlah anjingmu (niscaya kelak) dia akan memangsamu.
Zaid bin Arqam Al Anshari yang mendengar ucapan Abdullah bin Ubay bin Salul segera melaporkan kepada pamannya. Kemudian pamannya mengajak Zaid bin Arqam Al Anshari untuk melaporkan kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.
Begitu mendengar informasi itu Rasulullah segera memanggil Abdullah bin Ubay bin Salul untuk dicros cek. Tetapi apa yang terjadi?
Abdullah bin Ubay bin Salul justru bersumpah dengan mengatakan tidak mungkin dirinya mengucapkan seperti itu, sebab dirinya tahu beliau adalah rasulullah.
Begitu mendengar jawabannya itu Rasulullahpun menegur Zaid. Hal itu membuat Zaid down.
Tidak lama kemudian turunlah surat ini sebagai jawaban bahwa informasi dari Zaidlah yang benar sedangkan sumpahnya Abdullah bin Ubay bin Salul adalah sumpah palsu.
Oleh karena itu berhati-hatilah dalam berseloroh dan bercanda, agar tidak sampai jatuh pada istihza’.
Wallahu a’lam.
Oleh: Abu Ibrahim

Sedang mencari karpet untuk masjid, kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, Permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
