Sendau Gurau Yang Terukur Bag.12
Berhati-hatilah dalam bersendau gurau.
Ada saja orang yang ingin agar dirinya atau perkataannya dianggap lucu. Apa lagi apabila dia sudah naik daun namanya lalu dianggap sebagai salah seorang yang lihay dalam setiap kali melontarkan joki-jokinya.
Tetapi sayang, joki-joki yang dilontarkannya justru mengakibatkan Allah Ta’ala marah. Dan hal ini disebut juga sebagai istihza’. Kenapa?
Sebab joki-joki yang dilontarkannya adalah berupa istihza’ (pelecehan) terhadap bentuk tubuh manusia yang cacat, misalnya.
Memang sepintas joki yang dilontarkannya adalah suatu kebenaran –misal; seperti seseorang yang berkaki satu, atau pincang sebelah, atau orang yang cedal bicaranya, atau telinga yang pendek sebelah dan lain sebagainya-.
Tetapi ingat bahwa sebenarnya joki yang dilontarkannya itu sangat menyakiti hati orang yang kebetulan kecacatan fisiknya paasa sesuai dengan yang disebutkan. Dan itu tentunya sangat memalukan sekali bagi orang yang cacat fisiknya tersebut.
Selain itu jauh yang lebih parah adalah justru Allah Ta’ala sangat murka sekali terhadap istihza’ yang model seperti ini. Sebab Allah Ta’ala menciptakan makhluk-Nya yang secara sepintas terlihat cacat itu memang Allah sengaja menciptakannya seperti itu. Jadi itu bukan berarti Allah telah gagal dalam menciptakan suatu ciptaan-Nya. Melainkan justru Allah Ta’ala sedang menyembunyikan suatu keajaiban untuk makhluk yang diciptakan-Nya.

Bukankah dalam ayat-Nya Allah Ta’ala telah berfirman:
رَبَّـنَا مَا خَلَقْـتَ هَذَا بَاطِلًا، سُبْـحَانَـكَ فَـقِنَـا عَذَابَ النَّارِ.
“Wahai Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka”. Qs. Ali Imran 191.
Jelas bukan? Bahwa Allah mencipta segala sesuatunya sama sekali tidal ada kegagalan. Bahkan sesungguhnya Allah telah menyimpan suatu hikmah dibalik ciptaan-Nya yang ‘berbeda’ itu.
Lihat saja Abdullah bin Umi Maktum dan Julaibib radliyallahu ‘anhuma. Keduanya sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, dan keduanya juga cacat fisiknya.
Abdullah bin Umi Maktum adalah seorang yang buta sedangkan Julaibib; beliau tidak buta tetapi beliau tidak diketahui nasabnya, miskin, pakaiannya lusuh, pendek dan seabrek yang serba kurang.
Tetapi siapa sangka bahwa di akhir kehidupan keduanya sama-sama mati di jalan Allah alias syahid.
Oleh karena itu berhati-hatilah dalam bercanda, agar kelak tidak terkena ayat:
قُلْ أَبِاللهِ وَ آيَـاتِهِ وَرَسُوْلِهِ كُـنْـتُمْ تَسْـتَهْزِءُوْنَ.
Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kamu selalu berolok-olok”. Qs. At Taubah 65.
Wallahu a’lam.
Oleh: Abu Ibrahim

Sedang mencari karpet untuk masjid, kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, Permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
