Sendau Gurau Yang Terukur Bag.11

Sendau Gurau Yang Terukur Bag.11

Berhati-hatilah dalam bersendau gurau.

Jika di atas telah disinggung tentang bahayanya istihza’ (bersendau gurau/canda yang berlebihan) berupa ucapan mengenai kemuliaan. Namun ternyata ada juga istihza’ (bersendau gurau/canda berlebihan) dengan cara perbuatan atau bahkan keyakinan.

Dan ini sebenarnya (boleh dibilang) sudah menggurita. Yaitu pemahaman yang mengatakan bahwa semua agama itu sama. Sebab pada dasarnya semua agama itu mengajarkan pada kebaikan. Na’dzubillah!

Sungguh ini sangat berbahaya sekali bila diucapkan oleh kaum muslimin. Walaupun dia berargumen bahwa ini hanya sekedar menyampaikan pelajaran yang diampunya sebagai guru materi tersebut.

Atau beralasan bahwa yang diucapkannya hanya demi persatuan bangsa dan negara.

Sungguh ini bukanlah alasan yang berdasar sama sekali.

Berhati-hatilah dalam bersenda gurau.

Bukankah dahulu di Madinah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam hidup pada masyarakat yang majemuk? Tetapi kenyataannya beliau shalallahu ‘alaihi wa salam tidak pernah mengeluarkan kata-kata yang mengandung kalimat/kata iztihza’.

Bahkan ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam pertama kali sampai di Madinah, yang beliau kerjakan adalah;

a. Mempersatukan kaum muslimin.

Semua sudah tahu bahwa kaum muhajirin saat itu telah meninggalkan semua harta bendanya, plus (ada yang) anak istrinya, bahkan. Kemudian sesampainya di Madinah mereka merasa sendirian. Makanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam kemudian mempersaudarakan mereka dengan penduduk muslim setempat, yang kemudian disebut sebagai anshar atau kaum anshar (kaum penolong).

Dengan mempersaudarakan antara kaum muhajirin dengan kaum anshar maka secara tidk langsung kekuatan Islam telah menjelma menjadi kekuatan besar.

b. Membuat MoU dengan masyarakat Madinah yang non muslim.

Setelah mempersaudarakan kaum muslimin muhajirin dengan kaum anshar maka langkah berikutnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam melakukan perjanjian dengan penduduk Madinah demi menjaga keamanan dan keutuhan (negara) Madinah Munawwarah.

Adapun isi perjanjian itu di antaranya adalah:

  • Sesama warga (negara) Madinah harus saling bahu membahu/bantu membantu apabila terjadi musibah.
  • Semua musuh di luar (negara) Madinah maka menjadi musuh bersama.
  • Apabila ada sekelompok orang/pasukan yang menyerbu ke kota Madinah yang berencana memusuhi/memerangi salah satu dari kabilah yang ada di Madinah maka secara tidak langsung kelompok itu menjadi musuh bersama.
  • Semua problematika yang ada di Madinah akan dipikul oleh semua penduduk Madinah.

Subhanallah, begitu cerdasnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Beliau sama sekali tidak mengatakan bahwa semua agama itu sama. Tetapi di sana disebutkan bahwa apabila ada musuh/sekelompok orang yang datang ke Madinah untuk memerangi suatu kaum yang ada di Madinah maka hal itu menjadi musuh bersama; jadi bukan (hanya) musuhnya kabilah yang hanya diserang saja, melainkan mejadi musuh bersama.

Jadi beliau tidak mengatakan bahwa semua agama sama. Padahal beliau juga tidak menginginkan terjadinya perpecahan di Madinah.

Oleh karena itu jagalah iman yang masih ada di dada. Jangan mudah mengatas namakan persatuan kemudian agama emnjadi taruhannya. Ingatlah bahwa Allah Ta’ala telah berfirman:

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk ornag-orang yang rugi. Qs. Ali Imran 85.

Wallahu a’lam.

Oleh: Abu Ibrahim

leader banner alhidayat karpet

Sedang mencari karpet untuk masjid, kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, Permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button