Sungguh para salafush shalih itu ketakutannya kepada Allah Ta’ala itu sangat luar biasa. Berbeda dengan manusia-manusia akhir zaman seperti sekarang ini. Maka tidak heran jika kemudian mereka sangat berhati-hati dalam bertindak ataupun berucap. Sebab semua ucapan dan tindakannya kelak akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah Ta’ala.
Berikut ini nasehat yang sangat menyentuh jiwa, dari seorang sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, Abdullah bin Mas’ud radliyallahu ‘anhu. Katanya, “Sesungguhnya kalian (sedang) berada di tengah perjalanan malam dan siang. Dalam umur yang terus berkurang, dan dalam berbagai amalan yang selalu dijaga catatannya (yakni tersimpan dalam catatan amal). Sedangkan kematian itu akan datang secara tiba-tiba. Barangsiapa menanam kebaikan, maka dia akan memanen kebahagiaan. Dan barangsiapa yang menanam keburukan, maka akan memanen penyesalan.
Setiap orang yang menanam, dia akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ditanam. Orang yang berlambat-lambat, dia tidak akan bersegera mendapatkan bagiannya. Dan orang yang rakus, dia tidak akan mendapatkan apa yang tidak ditetapkan baginya.

Barangsiapa yang dikaruniai kebaikan, maka Allah-lah yang memberinya. Dan barangsiapa yang dijaga dari keburukan makan Allah-lah yang menjaganya.
Orang-orang yang bertaqwa itu tinggi derajatnya, ahli fikih membimbing umat, dan menghadiri majlis mereka ada suatu keutamaan”. Terdapat pada kitab SHIFFATUSH SHAFWAH 1/694.
Itulah para salafush shalih. Mereka lebih sering memikirkan tentang kematian. Sudah memiliki bekal apakah yang kelak akan dibawa saat menghadap Allah Ta’ala?
Mereka selalu mengingat-ingat tentang segala sesuatu yang telah dikerjakan dan yang akan dikerjakan. Bila ternyata yang sudah dikerjakan itu banyak keburukan/kemungkarannya maka mereka segera bertaubat, tetapi bila yang sudah kerjakannya itu adalah kebaikan maka mereka bersyukur; meski tetap mereka waspada. Yakni apakah amal kebaikan yang dikerjakan di masa lalu itu diniatkan untuk Allah atau untuk selain-Nya?
Ya, ini agar tidak merasa telah banyak berbuat kebaikan dan kemakrufan tetapi ternyata amalnya bukan karena Allah. Tujuannya agar di sisa hidupnya benar-benar bisa membuat suatu perubahan pada kebaikan. Dan jangan sampai beranggapan telah banyak berbuat kebaikan tetapi ternyata amalnya tidak diterima Allah Ta’ala.
Lalu di sisa hidupnya itu mereka selalu menimbang tentang amal yang kelak akan dikerjakannya. Agar di akhir hayatnya mereka benar-benar mendapatkan ridha Allah Ta’ala. Karenanya Rasulullah sndiri juga mengajarkan agar selalu berdoa seperti doa di bawah ini:
اللَّهُـمَّ إِنِّـى أَسْـأَلُـكَ الْهُدَى وَالتُّـقَى وَالْعَـفَـافَ وَالْغِـنَى.
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketaqwaan dan iffah(penjagaan diri dari hal yang tidak diperbolehkan), dan rasa kecukupan”. Diriwayatkan Muslim ari Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
