Kembali kepada masalah muhasabah (mengkoreksi diri sendiri). Ya, dengan muhasabah maka setidaknya seseorang akan mengetahui kekurangan dirinya sendiri lalu kesalahan atau kekurangannya akan dijadikan sebagai bahan lecutan untuk memacu semangat diri dalam beramal shalih.
Sebab sebenarnya muhasabah sendiri akan mampu menjadikan pelakunya masuk pada area “ خَوْفٌdan خَشْـيَـةٌ (takut dan berharap)”. Takut terhadap adzab dan murka Allah dan berharap terhadap ridha Allah Ta’ala.
Takut bila amal-amalnya tidak diterima Allah disebabkan adanya kekurangan. Baik kurang disebabkan dosa kepada Allah atau karena dhalim terhadap diri sendiri atau terhadap manusia lainnya (hablun minan naas/hubungan sesama manusia).
Khasy-yah (berharap kepada AllahTa’ala); inilah yang harus tetap ditanamkan pada diri setiap muslim. Yakni berharap semoga semua amal ibadahnya diterima sebagai shalih.

Bila hal ini sudah dilakukan maka dia pasti tidak akan sempat untuk ngerumpi, mengoreksi kesalahan orang lain dan ghibah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
يَـآ أَيُّـهَـا الَّـذِيْـنَ آمَنُوْا اجْـتَـنِـبُوْا كَثِيْـرًا مِنَ الظَّنِّ، إِنَّ بَـعْضَ الظَّـنِّ إِثْـمٌ وَلَا تَـجَسَّـسُوْا وَلَا يَـغْتَـب بَـعْضُكُـمْ بَـعْضًا، أَيُـحِبُّ أَحَدُكُـمْ أَن يَـأْكُـلَ لَحْـمَ أَخِيْـهِ مَيْـتًـا فَكَـرِهْـتُمُـوْهُ، وَاتَّـقُـوْا اللهَ، إِنَّ تَـوَّابٌ رَحِيْـمٌ.
Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Qs. Al Hujuraat 49.
Diriwayatkan dari Al Marwadzi, dia berkata, ‘Saya pernah bertanya kepada (imam) Ahmad, ‘Bagaiamana kabarmu pagi ini?’.
Beliau menjawab, “Bagaimana aku mampu menjawab, di pagi hari ini seseorang dituntut menunaikan kewajiban-kewajiban dari Robbnya. Nabi-Nya menuntut melaksanakan sunnah-sunnahnya, sedangkan dua malaikat selalu mengawasi agar senantiasa mempercantik amalannya dan dirinya menuntut untuk mengikuti hawa nafsunya. Sedangkan iblis mendorong agar berbuat maksiat dan kenistaan, sementara itu malaikat maut selalu mengintainya untuk mencabut nayawanya, dan keluarganya menuntut untuk dipanuhi nafkahnya”. Terdapat pada kitab Siyaru A’laamin Nubalaa’ 11/227.
Setidaknya jawaban dari imam Ahmad ini bisa menjadi renungan bagi para pengikut salafush shalih agar selalu mawas diri dan tidak terlalu ‘mengorek’ urusan lain tetapi justru lebih melihat pada diri sendiri agar amalnya setap hari selalu meningkat.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
