Al Qadhi Husain menceritakan tentang gurunya yang bernama Al Qaffaal, bahwa beliau sering sekali menghabiskan waktunya untuk menangis setiapkali (beliau) memperdalam suatu pelajaran. (jika sudah faham) beliau segera mengangkat kepalanya seraya berkata, “Kami tidak mengabaikan apa yang dimaksudkan untuk kami”. Terdapat pada kitab Siyaru A’laamin Nubalaa’ 17/407.
Inilah yang membedakan generasi para salafush shalih dengan generasi sekarang. Bila mereka mempelajari suatu pelajaran lalu mereka menemui kesulitan maka yang mereka lakukan pertama kalinya adalah muhasabah.
Mungkinkah ada sesuatu yang tidak beres pada dirinya sendiri? Mulai dari persoalan makanan dan minuman, pekerjaan, atau mungkinkah ada suatu perintah Allah yang diabaikan atau ditinggalkan? Atau justru mungkinkah dirinya telah melanggar sesuatu yang Allah larang? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang bersifat muhasabah yang ditujukan kepada dirinya sendiri.
Makanya tidak heran bila mereka sering menangis.
Itu bukan karena mereka cengeng melainkan karena satu alasan; Mereka belum bisa/mampu memahami sebuah pelajaran.

Makanya ketika sampai mentok kok mereka belum juga bisa memahami suatu pelajaran semuanya sudah dikerjakan, maka mereka (terutama Al Qafaal) menangis sambil berkata, “Kami tidak mengabaikan apa yang dimaksudkan untuk kami”.
Hal yang sama juga terjadi pada diri imam Syafi’i. Ya, dahulu imam Syafi’i juga pernah mengalami hal yang sama. Yaitu beliau pernah suatu saat secara tiba-tiba banyak hafalan beliau yang hilang. Saat hendak diulang untuk dihafal malah justru semakin blank.
Karena akan semakin banyak hafalannya yang hilang maka imam Syafi’i segera mengadukan persoalan hafalannya yang hilang itu kepada gurunya, Waqi’.
Dan Waqi’ dengan enteng mengatakan bahwa hilangnya hafalan dan ilmu itu pasti karena maksiat yang telah dilakukan imam Syafi’i.
Padahal imam Syafi’i dikenal dengan hafalannya yang sangat luar biasa. Diriwayatkan dari imam Syafi’i sndiri, beliau berkata, “Aku telah menghafalkan Al Qur’an ketika berusia 7 tahun. Akupun telah telah menghafalkan kitab Al Muwaththa’ ketika usia 10 tahun. Ketika usia 15 tahun aku pun sudah berfatwa”.
Tetapi kenapa tiba-tiba hafalannya hilang?
Ya hal itu, sebagaimana yang disampaikan oleh gurunya, Waqi’. Yakni disebabkan bimam Syafi’i telah melakukan dosa.
Setelah imam Syafi’i mengingat-ingat, barulah beliau ingat bahwa beberapa hari sebelum peristiwa hilangnya hafalannya itu imam Syafi’i pernah melihat seorang wanita yang hendak menaiki kendaraan, lalu bajunya tekena angin. Dan terlihatlah mata kakinya!
Subhaanallah! Ini sungguh luar biasa.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
