Dari Asma’ binti Abu Bakar radliyallahu ‘anhuma, beliau berkata, ‘Ketika Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam berangkat dari Makkah, Abu Bakar Ash Shiddiq radliyallahu ‘anhu membawwa serta semua harta –lima ribu atau enam ribu-. Kemudian datanglah kakekku yang buta, Abu Quhafah.
Kakekku, Abu Quhafah berkata, “Sesungguhnya orang ini (maksudnya Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam) telah menyusahkanmu dalam masalah harta dan hidupmu”.
Maka saya katakan, “Tidak kek! Bahkan dia telah meninggalkan harta yang banyak untuk kita”.
Lalu saya mengambil batu-batuan, kemudian batu-batuan itu saya lapisi dengan kain dan menaruhnya di jendela rumah serta diletakkan di antara tumpukan pakaian. Kemudian saya ambil tangannya Abu Quhafah dan saya letakkan tangan di atas tumpukan kain pakaian itu sambil berkata kepadanya, “Ini lho. Dia telah meninggalkan (harta)nya untuk kita”.
Kemudian Abu Quhafah langsung berkata, “Jika dia telah meninggalkan harta ini untuk kita, maka tenanglah (hidup) kita”. Terdapat pada kitab Siyaru A’laamin Nubalaa’ 2/290.

Bila melihat sejarah dari keluarga Abu Bakar Ash Shiddiq radliyallahu ‘anhu maka akan menjadi sebuah lecutan keras bagi kaum muslimin yang enggan untuk memperjuangkan Islam. Sebab beliau benar-benar sanggup mendidik anak-anaknya untuk menjadi pejuang yang kelak akan mengganti ayahnya.
Beliau tidak tanggung-tanggung dalam memperjuang agama Islam ini. Bahkan seluruh hartanya pun beliau infakkan di jalan Allah Ta’ala. Demi mendapatkan ridha-Nya dan kejayaan Islam.
Padahal jika melihat dari pernyataan anaknya tercinta, ‘Aisyah radliyallahu ‘anha bahwa ayahnya adalah orang yang cengeng. Maka ‘Aisyah radliyallahu ‘anha sebenarnya keberatan bila Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam menunjukkannya sebagai gantinya Rasulullah untuk menjadi imam shalat selama Rasulullah sakit.
Namun ternyata dugaan anaknya. ‘Aisyah radliyallahu ‘anha meleset. Ternyata ayahnya, Abu Bakar Ash Shiddiq radliyallahu ‘anha adalah sosok manusia yang tegas dan berwibawa.
Setidaknya ketegasannya terlihat pada dua kasus;
1. Ketika usai diangkat menjadi seorang khalifah beliau masih tetap meneruskan misi yang ditugaskan kepada Usamah bin Zaid radliyallahu ‘anhu. Yaitu memimpin perang.
2. Beliau memutuskan untuk memerangi orang atau bahkan kelompok yang dengan sengaja tidak mau membayar zakat. Sehingga keputusannya membuat seorang Umar bin Khaththab radliyallahu ‘anhu kaget. Sampai-sampai Umar bin Khaththab radliyallahu ‘anhu menemui Abu Bakar Ash Shiddiq secara empat mata dan menanyakan tentang keputusannya. Namun jawaban tegasnya itulah yang membuat Umar merasa mendapatkan ilmu baru, yakni Allah tidak pernah memisahkan ayat-ayat-Nya yang berkaitan antara shalat dan zakat kecuali pada surat Al Kautsar.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
