Salaf dan Jihad Bag.4

Dari Tsabit Al Bannani, dari Ibnu Abi Laily, bahwa Abdullah bin Ummi Maktum radliyallahu ‘anhu berdoa:

يَـارَبِّ! أَنْـزِلْ عُـذْرِي.

“Ya Allah! Hilangkanlah udzurku”.

Kemudian turunlah ayat:

لَا يَـسْـتَوِى الْقَـاعِـدُوْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْـنَ غَيْـرُ أُوْلِى الضَّرَرِ وَالْمُـجَـاهِدُوْنَ فِى سَبِـيْـلِ اللهِ بِـأَمْوَالِهِـمْ وَأَنْـفُـسِـهِمْ، فَـضَّلَ اللهُ الْمُـجَـاهِديْـنَ بِـأَمْوَالِـهِمْ وَأَنْـفُـسِـهِمْ عَـلَى الْقَـاعِـدِيْـنَ دَرَجَةً، وَكُـلًّا وَعَـدَ اللهُ الْحُسْـنَى، وَفَـضَّلَ اللهُ الْمُـجَـاهِدِيْـنَ عَـلَآ الْقَـاعِـدِيْـنَ أَجْرًا عَـظِيْـمًـا.

Tidaklah sama antara orang mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai udzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar. Qs. An Nisaa’ 95.

Maka setelah turun ayat ini (akhirnya) beliau ikut berperang di jalan Allah.

Abdullah bin Ummi Maktum

Abdullah bin Ummi Maktum berkata, “Ambilkanlah bendera (sebagai lambang panji pasukan) untukku. Sebab saya buta maka saya tidak akan bisa lari dan menyerang musuh. Oleh karenanya jadikanlah diriku berada di tengah-tengah pasukan (Islam)”. Terdapat pada kitab Siyaru A’laamin Nubalaa’ 1/364.

Tidak dibayangkan bukan? Bagaimana seorang yang buta tetapi beliau radliyallahu ‘anhu berdoa agar dirinya dijadikan sebagai orang yang tidak mendapatkan udzur dalam berjihad di jalan Allah Ta’ala. Padahal sebenarnya beliau adalah seorang yang buta. 

Bukankah orang buta itu secara syar’i telah mendapatkan udzur? Tetapi kenapa Abdullah bin Ummi maktum radliyallahu ‘anhu tidak mau?

Hal itu tiada lain disebabkan fadhilah (keutamaan) jihad itu sangat luar biasa sekali. Dan bahkan karena doanya akhirnya beliau mendapatkan apa yang diimpikan oleh kebanyakan para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam; mati syahid!

Maka tidak heran intelegen Romawi menggambarkan pasukan Islam pada waktu dengan sebutan; ruhbaanun fil lail wal usdun fin nahaari (menjadi rahib –tukang ibadah- di malam hari, dan menjadi singa –kelaparan- di siang hari).

Ya, setidaknya gambaran itu telah diwakili oleh sahabat buta yang tidak mau mendapatkan udzur, Adbullah bin Ummi Maktum radliyallahu ‘anhu.

Wallahu a’lamu bish shawaab.

By: Abu Ibrahim.

leader banner alhidayat karpet

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button