Salaf dan Fitnah Kekuasaan/Penguasa Bag.2

Sulaiman At Taimi berkata, Ahnaf berkata, : “Tiga hal dalam benakku yang selalu menjadi perhatianku; (1) aku tidak akan pernah datang ke pintu suatu kekuasaan kecuali aku dipanggil, (2) aku tidak akan masuk di antara dua orang sampai mereka membolehkan aku masuk di antara mereka berdua dan (3) tidak akan menyebut siapapun orang yang pernah bertemu dengan dan kemudian meninggalkanku kecuali kebaikan(nya)”. terdapat pada kitab Siyaru A’laamin Nubalaa’ 4/92.

Ini adalah adab yang selalu dipegang erat-erat oleh para salafush shalih, salah satunya adalah Sulaiman At Taimi ini. Yaitu beliau selalu memperhatikan tiga hal:

1. Beliau sangat menjaga jarak dengan penguasa.

Yang dimaksud dengan menjaga jarak itu bukan berarti anti penguasa, melainkan agar ilmunya ulama itu tidak tersandera. 

Lihat saja imam Bukhari yang rela diusir disebabkan beliau menolak diminta mengajari anaknya gubernur. Imam Bukhari mengatakan bahwa yang benar itu adalah orang yang butuh ilmu yang memiliki ilmu bukan orang yang memiliki ilmu yang mendatangi orang yang membutuhkan.

Dan karena prinsipnya yang dipegang itulah akhirnya imam Bukhari diusir. Begitu juga saat beliau hendak pulang ke kampungnya di Bukhara, beliau juga dilarang masuk. 

sikap salaf kepada penguasa

Imam Nawawi juga sama. Beliau diusir hanya gara-gara tidak mau menandatangani fatwa yang diinginkan penguasa. 

2. Tidak mau ikut campur dalam urusan orang lain yang sedang ada konflik, kecuali bila beliau diminta untuk masuk.

Ini juga bagian dari adab. Yakni (Sulaiman AT Taimi) tidak mau ikut campur dalam sengketa dua orang atau lebih. Tujuannya agar tidak malah menambah runyam konfliknya. Sebab siapa tahu bila sebenarnya dua orang yang sedang ada konflik internal itu sedang mencari solusinya.

Siapa yang tahum bukan?

Namun meskipun sudah diundang untuk hadir dan mendamaikan keduanya, bukan berarti Sulaiman At Taimi ini merasa paling hebat. Tidak!

Beliau tetap mencoba menjadi penengah dengan cara-cara yang yang adil.

3. Tidak akan pernah menyebut kejelekan orang lain yang dulunya pernah melakukan muamalah dengan beliau.

Ini adalah suatu sikap yang paling dominan di kalangan para salafush shalih. Yang tentu harus diwariskan sikap kepada generasi muda Islam dewasa ini. Agar tidak saling merendahkan orang lain ketika mereka sudah tidak bersama algi dalam muamalah.

Wallahu a’lamu bish shawaab.

By: Abu Ibrahim.

leader banner alhidayat karpet

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button