Salaf dan Al Qur’an Bag.6

Bila hidup di kampung-kampung biasanya sering terdengar ada acara-acara yang dianggap sebagai sebuah tradisi, yaitu hataman Al Qur’an. Dan tradisi acara hataman Al Qur’an sendiri di kampung-kampung itu biasanya diadakan karena beberapa hal. Di antaranya;

1. Acara menjelang khitanan.

Biasanya anak yang hendak dikhitan dia akan membaca Al Qur’an. Tetapi ternyata hanya dimulai dari surat Ath Thariq hingga surat An Naas. Meskipun di sana disebutkan akan hataman, namun kenyataannya hanya beberapa surat saja dari juz Amma.

2. Pernikahan.

Kalau yang ini hanya ada beberapa saja, tidak semua acara pernikahan ada acara hataman Al Qur’an. Namun pada prinsipnya acaranya sama dengan acara hataman Al Qur’an pada anak yang hendak dikhitan. Hanya saja kalau yang ini yang membacakannya calon mempelai laki-laki.

3. Untuk mendoakan keluarga yang sudah meninggal dunia.

Kalau yang acara kirim doa ini maka yang dibaca memang seluruh Al Qur’an, yakni mulai dari surat Al Fatihah hingga surat An Naas. Hanya saja durasinya amat sangat cepat. Yakni sekitar empat hingga lima jam saja.

Imam Adz Dzahabi

Sungguh sangat kontras sekali dengan para salafush shalih dalam membaca Al Qur’an. Ya, sebab para salafush shalih itu benar-benar sangat menghayati seluruh isi kandungan yang ada dalam Al Qur’an. Setidaknya sebagaimana yang disampaikan oleh Ishaq bin Ibrahim di bawah ini.

Dari Ishaq bin Ibrahim, dia berkata, “Bacaan Fudhail bin Iyadh itu (sungguh terdengar) sedih, menyentuh hati, lambat dan berlarut-larut; seperti sedang menyapa seseorang. Dan jika dia menemukan ayat-ayat yang menyebutkan tentang surga, maka dia akan mengulang-ulangnya”. Terdapat pada Shiffatush Shafwah 2/238.

Dari riwayat di atas setidaknya dapat diambil kesimpulan bahwa para salafush shalih itu ketika membaca Al Qur’an maka mereka ibarat sedang membaca ‘surat cinta’ dari Tuhannya, Allah Ta’ala. Sehingga mereka membacanya dengan pelan-pelan bahkan secara tartil. Dan tartilnyapun mengikuti iramanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.

Dan orang-orang yang bisa membaca secara tartil dan sesuai dengan iramanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam itu harus melalui jenjang yang berkelanjutan. Seperti harus mendapatkan sanad dan matan.

Adapun syarat untuk mendapatkan sanad dan matan ini tidak sembarangan. Sebab harus melalui etape etape yang sudah terlampir di sana. Yang tentunya sudah ada mekanismenya.

Ternyata membaca Al Qur’an benar-benar terstandarkan. Dan bagi kaum muslimin sudah selayaknya untuk bisa mengikuti para salafush shalih dalam membacanya.

أَوْزِدْ عَـلَيْـهِ وَرَتِّـلِ الْقُـرْآنَ تَـرْتِـيْـلًا.

Atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan. Qs. Al Muzzammil 4.

Wallahu a’lamu bish shawaab.

By: Abu Ibrahim.

leader banner alhidayat karpet

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button