Salaf dan Al Qur’an Bag.5

Dari Hamad bin Zaid, dari ‘Atha’ bin Sa-ib, bahwa Abu Abdurrahman berkata, “Kami belajar Al Qur’an dari kaum yang mengkabarkan kepada kami bahwa ketika mereka mempelajari sepuluh ayat, mereka tidak akan melampauinya ke sepuluh ayat lainnya, sampai mereka mengetahui apa yang ada di dalamnya. Maka kami akan mempelajari Al Qur’an dan mengamalkannya, dan Al Qur’an akan diwarisi setelah kami oleh orang-orang yang mminumnya dengan air minum yang tidak melebihi tulang selangka mereka”. Terdapat pada kitab Siyaru A’laamin Nubalaa’ 4/269.

Ini adalah kebiasaan orang-orang dahulu yang ingin benar-benar mempelajari Al Qur’an. Bahkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam sendiri juga melarang umatnya belajar dan membaca Al Qur’an seperti burung beo. Yakni hanya sekedar tahu membaca tetapi tidak memahami isi dan kandungan dari Al Qur’an itu sendiri. 

Maka tidak heran jika dahulu para sahabat (lalu diikuti oleh para tabi’in dan tabi’ut tabi’in) ketika belajar Al Qur’an, mereka tidak akan beranjak ke ayat berikutnya kecuali setelah mereka faham betul isi dan kandungannya lalu mereka bisa mengamalkannya.

Utsman bin ‘Affan dan Abdullah bin Mas’ud radliyallahu ‘anhuma berkata:

كُـنَّـا إِذَا تَـعَـلَّـمْـنَـا مِنَ النَّـبِـيِّ صلى الله عليه و سلم عَـشْرَ آيَـاتٍ، لَـمْ نُـجَـاوِزِهَـا حَتَّـى نَـتَـعَـلَّـمَ مَا فِيْـهَـا مِنَ الْعِـلْـمِ وَالْعَـمَـلِ.

“Jika kami memperlajari sepuluh ayat dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam, maka kami tidak akan berpindah ke ayat berikutnya, sebelum kami faham makna yang terkandung dalam sepuluh ayat tersebut kemudian mengamalkannya”.

membaca al quran

Jadi bukan berarti para sahabat itu menolak ayat-ayat Al Qur’an. Melainkan mereka sangat takut jika mendapatkan ayat-ayat Al Qur’an yang banyak tetapi mereka tidak (atau mungkin belum) bisa mengamalkannya. Sungguh ini bagi para salafush shalih adalah suatu hal yang sangat berat bagi ruhiyah mereka.

Adapun metode yang mereka lakukan adalah; membaca, memahami, mentadabburi, mengamalkan dan menghafalkannya. 

Ini sangat berbeda sekali dengan yang dijalani kaum muslimin dewasa ini. Yakni mereka banyak-banyak belajar ayat-ayat Al Qur’an tetapi sangat sedikit mengamalkannya.

Jangankan mengamalkannya, mentadabburinya saja terkadang ogah-ogahan. Alasannya, terlalu sibuk dengan berbagai macam urusan (keduniaan). 

Walhasil, berapa banyak orang yang mengetahui Al Qur’an tetapi (karena tidak banyak mengamalkannya) mereka sendiri tidak faham dengan isinya. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang hatinye merasa gersang! Lho.

Sungguh ini suatu musibah. Sebab Al Qur’an itu adalah syifa’ alias penyembuh atau obat. Jadi jika ada orang-orang yang menghafal Al Qur’an tetapi malah dianya stress, itu maknanya bahwa ada yang ‘tidak beres’ dengan sistem yang dipelajarinya. 

Maka sudah saat untuk berbenah agar sesuai dengan para salafush shalih.

Wallahu a’lamu bish shawaab.

By: Abu Ibrahim.

leader banner alhidayat karpet

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button