Dari Hisyam bin Hisan, dari Hafsyah binti Sirrin, dia berkata, “Bahwa setiap kali Muhammad (bin Sirrin) apabila sudah berada di dekat ibunya, dia tidak akan pernah berbicara kepada ibunya, seakan lidahnya kelu. Hal itu demi menghormati (ibu)nya”. terdapat pada kitab Shiffatush Shafwah 3/245.
Inilah potret seorang ulama tabi’in terkenal, luas ilmunya dan disegani oleh banyak orang. Namun beliau seakan menjadi tawanan perang tatkala berada di dekat ibunya.
Ya, ketika di luar beliau sangat disegani, dan banyak orang yang meminta fatwa-fatwanya. Bahkan terkadang fatwanya sendiri banyak orang yang memakai (menggunakan)nya. Tetapi ketika dihadapan ibunya, beliau diam seribu bahasa!
Hal itu bukan berarti beliau memiliki kesalahan, atau selalu kalah debat melawan ibunya. Bukan! Tidak seperti itu.

Apakah Muhammad bin Sirrin seorang penakut? Tidak! Hal itu dibuktikan ketika Umar bin Hubaidah Al Farazi diangkat menjadi seorang gubernur di Bashra. Seusai diangkat menjadi seorang gubernur Bashra, maka Umar bin Hubaidah Al Farazi memanggil Muhammad bin Sirrin dan dialog tentang berbagai hal. Dan ketika gubernur menanyakan tentang kondisi (keamanan) di kota, maka dengan tegas dan jelas Muhammad bin Sirrin menjawab, “Kedhaliman hampir merata di seluruh negeri ini. Saya melihat engkau selaku pemimpin kurang perhatian terhadap rakyat kecil”.
Begitu mendengar jawabannya Muhmmad bin Sirrin, maka keponakannya yang ikut menemaninya menghadap gubernur itu khawatir sehingga dia mencubit Muhammad bin Sirrin mencubit seraya menegurnya. Karena dia takut akan bahaya yang mengintai terhadap Muhammad bin Sirrin disebabkan berani berkata lantang kepada gubernur.
Namun dengan tenang Muhammad bin Sirrib menjawab, “Diamlah engkau! Kalau saya tidak mengkritik gubernur, nanti sayalah yang akan ditanya di akhirat. Apa yang saya lakukan merupakan persaksian dan amanah umat. Siapa saja yang menyembunyikan amanah ini, niscaya dia akan berdosa”.
Dari sini setidaknya bisa diketahui bahwa beliau sangat tegas terhadap siapa saja, termasuk penguasa sekalipun. Selama beliau berada di jalan yang benar (Al Haq) dan melihat ada kemungkaran, maka beliau tetap mencegahnya. Meskipun hanya sebatas menyampaikan bahwa ada yang salah dalam perilaku orang tersebut. Dan dengan keberaniannya beliau tidak takut untuk menerima resikonya.
Namun kembali lagi, sehebat dan segarang Muhammad bin Sirrin, beliau tetap saja tunduk dan patuh kepada kedua orang tuanya, terutama ibunya. Dan inilah akhlak yang memang sudah diajarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dan para sahabat radliyallahu ‘anhum ajma’in.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
