Salaf Berbakti Kepada Ibu Bag.2

Dari Abdullah bin Mubarak, dia bercerita, ‘Muhammad bin Munkadir berkata, “Umar begadang malam, maksudnya adalah saudaranya, dia (begadang) shalat malam dan (dalam shalatnya) dia menyingkirkan kaki ibuku. Sungguh malam itu adalah malam yang tidak menyenangkan bila dibandingkan dengan malamnya”. Terdapat pada kitab Shiffatush Shafwah 2/143.

Tidak bisa dibayangkan, betapa seseorang yang selalu menjunjung tinggi kehormatan seorang ibu. Dia melihat kalau kaki ibunya hanya digeser saja ketika seseorang sedang shalat, dia meradang. 

Sepintas bisa dianggap wajar. Sebab bila ada orang yang sedang shalat dan di sebelahnya orang tidur, lalu secara tidak sadar orang yang tidur itu bergerak atau menggeliat ke arah tempat orang yang sedang shalat atau tempat di mana kaki atau tubuhnya masuk ke wilayah tempat shalat. Maka orang yang sedang shalat itu diperbolehkan untuk menggeser anggota tubuh yang menghalangi sesorang yang sedang shalat itu. Sebab dahulu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam juga pernah melakukan hal seperti ini. 

Namun begitu sebenarnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam melakukannya terhadap istri beliau, ‘Aisyah binti Abu Bakar radliyallahu ‘anhuma, bukan kepada ibunya. Sementara itu untuk kasus ini, kaki yang disingkirkan/digeser itu kaki ibunya yang sedang tidur.

berbakti kepada ibu

Sebagai seorang muslim yang menjunjung tinggi ajaran dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam maka beliau sangat tersinggung atas perlakuan saudaranya yang ‘dengan semena-mena’ menggeser kaki ibunya.

Sebab selain mengimplemntasikan firman Allah Ta’ala di atas (Qs. Al Israa’ 23) yakni adanya larangan mengucapkan “uf”, jika dalam bahasa Indonesianya, dilarang mengucapkan ‘ah’, atau apalagi membentaknya.

Bahkan imam Syafi’i sendiri ketika ibundanya meninggal dunia beliau menangis dengan mengatakan bahwa dengan meninggalnya ibunya berarti amalan untuk meraih surga via berbakti kepada ibunya telah tertutup.

Lihatlah bagaimana seorang imam Syafi’i muda yang saat itu diajak berhaji ke Makkah oleh ibunya. Lalu setelah di sana ibunya menitipkan imam Syafi’i muda kepada seorang sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam agar beliau mengajari ilmu-ilmu agama kepada imam Syafi’i muda. 

Seusai menimba ilmu dari sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam yang ada di Makkah, beliau disuruh belajar lagi kepada sahabat lainnya yang ada di Irak. Dari sana ibunya bilang bahwa imam Syafi’i akan bertemu lagi dengan ibunya nanti setelah di surga. 

Ya, inilah potret seorang ibu, yang apabila seorang mau berbakti kepada ibunya maka keberkahan pastiakan selalu menyertainya. Dan salah satunya adalah Umar, dia sangat tersinggung ketika kaki ibunya disingkirkan begitu saja. 

Wallahu a’lamu bish shawaab.

By: Abu Ibrahim.

leader banner alhidayat karpet

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button