Salaf, Antara Akhlak dan Shiddiq Bag.9

عَـنْ مُوْسَى بْنَ الْمَعْـلَى قَالَ: قَالَ حُذَيْـفَـةَ: يَـا مُوْسَى، ثَلَاثُ حِـصَالَ إِنْ كُـنَّ فِيْـكَ لَـمْ يَـنْـزِلُ مِنَ السَّـمَاءِ خَيْـرٌ إِلَّا كَانَ لَكَ فِيْـهِ نَصٍيْـبٌ: يَـكُوْنُ عَـمَـلُكَ لِلَّهِ عَـزَّوَجَـلَّ، وَتُـحِبُّ لِـلنَّـاسِ مَا تُـحِبُّ لِنَـفْسِـكَ، وَهَذِهِ الْكَسْـرَةُ تُـحِـرُّ فِيْـهَـا مَا قَدَرْتَ.

Dari Musa bin Ma’la, dia berkata, Hudzaifah berkata, “Wahai Musa, jika ada tiga sifat dalam dirimu, (maka) tidak ada kebaikan yang turun dari langit kecuali engkau akan mendapatkan bagiannya. Yaitu; melakukan amal hanya untuk Allah, mencintai orang lain seperti mencintai dirimu sendiri, dan berusaha sebaik mungkin untuk mencapai apa yang kamu inginkan”. Shiffatush Shafwah 4/269.

Ini bukan sekedar wejangan biasa melainkan pembinaan diri dalam masalah adab dan akhlak. Yakni;

* Beramal hanya untuk Allah.

* Mencintai manusia sebagaimana mencintai diri sendiri, dan

* Berusaha sebaik mungkin untuk mencapai apa yang dicita-citakan.

Beramal hanya untuk Allah.

Ikhlas Menjadi Syarat Diterimanya Amal Saleh

Ini adalah harga mati. Yakni beramal hanya dipersembahkan kepada Allah.

Dalam hadits shahih yang sangat masyhur disebutkan tentang niat. Ini sungguh sangat mengena sekali. Sebab secara fisik, seseorang bisa saja hijrah bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dari Makkah ke Madinah. Dia juga merasakan capek sebagaimana capeknya Rasulullah dan para sahabat dalam menempuh perjalanan hijrahnya. Tetapi yang didapatkannya berbeda. Lho?

Sebab para sahabat hijrahnya karena memang dipersembahkan hanya untuk Allah dan Rasulullah sedangkan si pemuda itu hijrahnya karena demi mengejar seorang gadis yang ditaksirnya yang ternyata diajak orang tuanya hijrah. 

Jadi karena perbedaan niat inilah akhirnya yang didapatkan juga berbeda. Si pemuda itu hanya mendapatkan gadis yang diincarnya untuk menjadi istrinya sedang para sahabat lainnya benar-benar mendapatkan ridha Allah Ta’ala. Kecuali jika si pemuda itu meluruskan niatnya, maka dia juga akan mendapatkan ridha Allah Ta’ala.

Mencintai manusia sebagaimana mencintai diri sendiri.

Inilah maknanya ikhlas. Dia mencintai atau memberi manusia sebagaimana dia mencintai atau memberi kepada dirinay sendiri. Artinya bahwa dia harus mengukur dari dirinya sendiri ketika dia mencintai.

Misal, jika dirinya merasa membutuhkan sesuatu lalu ada orang lain yang memberi sesuatu yang dibutuhkan itu hanya sedikit, tentu dirinya akan kecewa. Meski hal itu hanya pemberian. Oleh karena itu jika ingin memberi sesuatu kepada orang lain juga harusnya dilebihkan. Sebab jika memberinya hanya sedikit bisa jadi sebenarnya orang yang diberi itu membutuhkan yang agak lebih.

Nah bila hal ini terjadi maka dia pastri akan disenangi/disukai banyak orang.

Berusaha sebaik mungkin untuk mencapai apa yang dicita-citakan.

Inilah yang dilakukan oleh para nabi dan rasul. Mereka selalu berusaha semaksimal mungkin. Tetapi mereka sama sekali tidak menuntut hasil. Maksudnya para nabi dan rasul itu amat sangat maksimal dalam berdakwah adapun hasil diserahkan kepada Allah Ta’ala. 

Maka bisa dilihat seberapa jumlah pengikut para nabi dan rasul sebelum Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Padahal kalau dilihat dari sisi lamanya dalam berdakwah maka para nabi dan rasul sebelum Rasulullah itu lebih lama. Tetapi para nabi dan rasul sama sekali tidak kecewa dengan jumlah pengikutnya yang sedikit. Sebab yang mereka cari adalah ridha Allah dari kinerja mereka.

Berbeda dengan kebanyakan manusia hari ini. Mereka selalu bilang, “Usaha tidak mengkhianati hasil”.

Sungguh ini pemahaman bukan dari ahlu sunnah.

Wallahu a’lamu bish shawaab.

By: Abu Ibrahim.

leader banner alhidayat karpet

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button