Dari Muhammad bin Malik bin Dhaigham, berkata; aku diceritakan kawan karib kami (maulana) –yakni- Abu Yusuf, suatu hari Abu Malik berkata kepadaku, “Wahai Abu Ayyub, berhati-hatilah dirimu terhadap dirimu. Sesungguhnya aku khawatir terhadap kaum mukminin di dunia ini yang sudah tua ini. Sungguh seorang mukmin itu jika tidak datang pada hari Akhir dalam posisi senang maka sebenarnya dia telah menghimpun dua perkara: mementingkan dunia dan mengesampingkan akhiratnya”.
Ya, para salafush shalih sangat memperhatikan perkara akhirat mereka daripada perkara dunia mereka. Mereka sangat ‘mengkritisi’ amal-amal mereka sendiri daripada amal orang lain. Sebagaimana yang pernah dialami seorang ulama tabi’in, Atha’ As Salami.
Suatu hari beliau hendak menjual kain yang telah ditenunnya. Setelah diteliti secara seksama oleh sang penjual, sang penjual kain mengatakan, Wahai Atha’! Sesungguhnya kain yang engkau tenun ini cukup bagus, tetapi sayang ada cacatnya sehingga saya tidak dapat membelinya”.

Begitu mendengar bahwa kain yan gtelah ditenunnya ada cacatnya, Atha’ termenung lalu menangis. Melihat Atha’ menangis, sang penjual kain bekata, “Wahai Atha’, sahabatku! Aku mengatakan yang sebenarnya bahwa memang kainmu ada cacatnya sehingga aku tidak dapat membelinya. Kalaulah karena sebab itu engkau menangis, maka biarkanlah aku tetap membeli kainmu dan membayarnya dengan harga yang pas”.
Tawaran itu dijawwab, “Wahai sahabatku! Engkau menyangka aku menangis disebabkan karena kainku ada cacatnya? Ketahuilah sesungguhnya yang menyebabkan aku menangis bukan karena kain ini. Aku menangis disebabkan karena aku menyangka bahwa kain yang telah kubuat selama berbulan-bulan ini tidak ada cacatnya, tetapi di mata engkau sebagai ahlinya ternyata ada cacatnya.
Begitulah aku menangis kepada Allah dikarenakan aku menyangka bahwa ibadah yang telah aku lakukan selama bertahun-tahun ini tidak ada cacatnya, tetapi mungkin di mata Allah sebagai ahlinya ada cacatnya. Itulah yang menyebabkan aku menangis”.
Ya, hal itu disebabkan Atha’ As Salami langsung otaknya konek dengan firman Allah Ta’ala:
عَـامِلَـهٌ نَـاصِبَـةٌ. تَـصْلَى نَـارًا حَامِيْـةٌ.
Rajin beamal lagi kepayahan. Namun, memasuki api yang sangat panas (neraka). Qs. Al Ghaasyiyah 3-4.
Tidak semua penghuni neraka adalah orang-orang yang selama di dunia kegemarannya hanya bermaksiat, tetapi orang-orang yang sering dan rajin beribadahpun jika tidak meluruskan niatnya (ketika beribadah dan setelahnya) maka hal itu akan sia-sia. Dan itulah yang selalu menjadi fikirannnya para salafush shalih.
Mereka sangat menjaga hatinya agar amalnya bena-benar Allah terima disebabkan keikhlasannya kepada Allah Ta’ala.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
