Ketika mendengar atau mnyebut kata SABAR, maka ada orang-orang yang terkadang nyeletuk, “Sabar itu ada batasnya”.
Benarkah demikian?
Setidaknya ada berikut ini adalah kesabaran yang ‘dimiliki’ para salafush shalih:
Dari A’masy, dari Syahr bin Hausyib, dari Harits bin Umairah, dia berkata, ‘Saya sedang duduk di sisi sahabat Mu’adz bin Jabbal radliyallahu ‘anhu, saat itu beliau sedang dalam kondisi tidak sadarkan diri, beliau pingsan.
Setelah siuman beliau berkata, “Tuhanku, betapa amuk-Mu hebat menimpaku. Demi kemuliaan-Mu, Engkau mengetahui bahwa hatiku mencinta-Mu”. Terdapat pada kitab Siyaru A’laamin Nubalaa’ 1/460.
Tentu tidak bisa dibayangkan, salah seorang sahabat, yang tentunya akan masuk surga, di saat sakaratul maut ternyata beliau juga merasakan kesakitan. Sama hal yang pernah dirasakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam sendiri saat beliau hendak dicabut nyawanya. Padahal malaikat maut sudah dikasih tahu Allah Ta’ala agar jika hendak mencabut nyawanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam harus menurut kesiapan beliau.

Makanya ketika merasakan betapa sakitnya saat sakaratul maut itulah akhirnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam berucap bahwa seandainya diperbolehkan maka biarlah beliau sendiri menerima sakitnya saat dicabutnya nyawa, jangan sampai terjadi pada diri umatnya. Dan hal ini juga ternyata dirasakan oleh sahabat Mu’adz bin Jabbal radliyallahu ‘anhu.
Padahal jauh-jauh hari (di saat masih sehat) beliau adalah salah satu sahabat yang zuhud paling banyak berdzikir.
Dalam doanya Mu’adz bin Jabbal radliyallahu ‘anhu pernah berkata, “Ya Allah! Engkau tahu bahwa aku tidak mencintai dunia karena ingin mengalirkan sungai-sungai atau menanam pohon-pohon. Tapi aku mencintai kehidupan karena aku bisa berjuang dalam qiyamul lail di malam hari yang panjang, merasakan dahaga di siang hari yang terik karena berpuasa, dan duduk bersama para ulama dalam majlis-majlis ilmu”.
Bila ditarik antara saat sahabat Mu’adz bin Jabbal radliyallahu ‘anhu sakaratul maut dengan kehidupan beliau sehari-hari setidaknya dapat disimpulkan bahwa beliau sangat sabar saat dalam menghadapi sakaratul maut disebabkan keseharian jauh-jauh hari sebelumnya.
Maka ini menjadi peringatan bagi kaum muslimin generasi setelahnya bahwa bila kesehariannya dipenuhi dengan amal shalih, niscaya pada saat sakaratul maut dia pasti akan istiqamah. Sebaliknya bila amal kesehariannya dia habiskan dengan kemaksiatan maka rasa sesal itu pasti akan menjangkiti saat sakaratul maut.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
