Sabar Dalam Musibah Bag.7

Dari Ahmad bin ‘Isham, dia berkata, Zuhair bin Nu’aim berkata, “Sesungguhnya urusan ini (musibah) tidak akan selesai kecuali dengan dua hal; sabar dan yakin. Seandainya ada keyakinan saja tetapi tidak disertai dengan kesabaran maka perkara itu tidak akan tuntas. Dan seandainya hanya dihadapi dengan kesabaran saja namun tidak diiringi dengan suatu keyakinan maka hal ini pun tidak akan tuntas. Hal itu sebagaimana Abu Darda’ telah memberikan permisalan. Kata beliau, “Permisalan yakin dan sabar adalah seperti dua sapi yang digunakan petani untuk membajak sawah. Yakni apabila salah satunya duduk maka yang lainnya pun ikut duduk”. Terdapat pada kitab Shiffatush Shafwah 4/8.

Setidaknya ini bisa dijadikan sebagai jawaban dari orang-orang yang sering mengatakan; SABAR ITU ADA BATASNYA.

Setiap orang pasti tidak menginginkan mendapat musibah. Tetapi bukankah musibah itu sendiri bagian dari takdir? Seperti tanah longsor, misalnya. Meskipun seseorang telah rumahnya sudah dibangun sedemikian kuatnya, dengan harapan agar terbebas dari pencurian, perampokan atau apapun. Namun ketika terjadi tanah longsor atau gunung meletus, yang membuat atapnya atau rumahnya terkena dampak abu vulkaniknya hingga membuat rumahnya rusak. 

Atau ada seseorang yang telah lama berusaha dengan sesuatu tetapi hasilnya nihil. Lalu bagaimana ini?

sabar dan yakin

Ketahuilah bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam juga pernah mengalami hal yang serupa; yakni di awal dakwah Islam, beliau memiliki dua penopang atau kekuatan dalam dakwah; istrinya (Khadijah binti Khuwailid) dan pamannya, Abu Thalib.

Namun pada saat bersamaan, kedua penopang dakwah itu meninggal. Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam ‘digembleng’ melalui peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Di sana akhirnya beliau faham bahwa dalam menapaki dakwah itu beliau harus realistis. Maka disusunlah rencana-rencana dakwah kepada umat. Dan rencana konsep dakwahnya ada dua; sabar dan yakin.

Sabar; Berbicara masalah sabar sebenarnya sangat panjang, namun begitu di sini akan dicukupkan saja tentang sabar terhadap qadha’ dari Allah Ta’ala. Sebagai contoh; sepasang suami istri yang telah lama menikah namun belum memiliki momongan. Nah bila ternyata segala daya dan upaya telah ditempuh –tentunya yang sesuai dengan syariat-, maka sikap yang harus diambil adalah sabar atas ketentuan Allah Ta’ala. 

Dalam hal ini maka ‘kesabarannya’ akan terlihat dengan sikapnya yang tidak menyalahkan Allah Ta’ala, tetapi justru semakin tinggi rasa husnudhan (berbaik sangka)nya kepada Allah Ta’ala. 

Yakin; 

Yakin bahwa musibah yang menimpa diri adalah bentuk bahwa sebenarnya diri ini sanggup menanggungnya. Sebab Allah Maha Tahu semua hamba-Nya.

Allah tidak membebani sesorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Qs. Al Baqarah 286.

Wallahu a’lamu bish shawaab.

By: Abu Ibrahim.

leader banner alhidayat karpet

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button