Sabar Dalam Musibah Bag.4

Dari Asy Sya’bi, Syuraih Al Qadhi berkata, “Ketika aku tertimpa musibah, maka aku bersyukur kepada Allah Ta’ala empat kali lipat lebih besar dari musibah yang sebenarnya terjadi”. 

Beliau memerinci, “Aku bersyukur (karena) musibahnya tidak besar, aku bersyukur (karena Allah telah) memberiku rezeki berupa kesabaran atas musibah yang menimpaku, aku bersyukur kepada Allah karena telah memberiku kesempatan untuk ber-istirja’ (mengucapkan kalimat; inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Pen) dan (semoga) mendapatkan pahala (karena sabar atas musibah tersebut), dan aku bersyukur karena musibah itu tidak sampai merusak agamaku”. Terdapat pada kitab Siyaru A’laamin Nubalaa’ 44/105.

Subhaanallah! Inilah kesabaran para salafush shalih terhadap musibah yang menimpanya. Bukan disesali atau diratapi melainkan justru disyukuri. Luar biasa!

Hal sangat kontras dengan kondisi keumuman manusia pada umumnya. Sebab pada umumnya manusia itu selalu berkeluh kesah.

salaf ketika tertimpa musibah

إِنَّ الْإِنْـسَـانَ خُـلِـقَ هَـلُوْعًـا. وَإِذَا مَسَّـهُ الشَّـرُّ جَـزُوْعًـا. وَإِذَا مَـسَّـهُ الْخَيْـرُ مَنُـوْعًـا.

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah, dan apabila dia mendapat kebaikan dia amat kikir. Qs. Al ma’aaruf 19-21.

Bahkan ketika dirinya sedang diuji dengan kesenangan maka dia akan mengatakan bahwa Allah telah memuliakannya. Sebaliknya, bila dirinya diuji dengan kekurangan rezeki atau sakit maka dia akan mengatakan bahwa Allah telah menghinakannya.

فَـأَمَّـا الْإِنْـسَانُ إِذَا مَا ابْـتَـلَىهُ رَبُّـهُ فَـأَكْـرَمَـهُ وَنَـعَّـمَـهُ فَـيَـقُوْلُ رَبِّـى أَكْـرَمَنِ. وَأَمَّـا إِذَا مَا ابْـتَـلَـىهُ فَـقَـدَرَ عَـلَيْـهِ رِزْقَـهُ فَـيَقُـوْلُ رَبِّـى أَهَـانَـنِ.

Adapun manusia apabila Tuhannya emngujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia berkata, “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata, “Tuhanku menghinakanku”. Qs. Al Fajr 15-16.

Namun dari pernyataan Syuraih Al Qadhi di atas setidaknya menjadi pelajaranlah bahwa beliau (dan para imam salafush shalih tentunya) telah memberikan contoh konkrit bahwa sehebat apapun musibah yang menimpanya selama musibah itu tidak sampai merusak imannya maka musibah itu dianggapnya kecil. 

Bukankah dalam riwayat juga disebutkan bahwa ibunda ‘Aisyah radliyallahu ‘anhuma mengatakan bahwa beliau bisa merasakan makan kenyang itu sejak penaklukan Khaibar. 

Itu artinya bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dan para sahabat sendiri juga merasakan penderitaan yang luar biasa itu dianggapnya sebagai hal yang biasa saja.

Wallahu a’lamu bish shawaab.

By: Abu Ibrahim.

leader banner alhidayat karpet

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button