Ringkasan Aqidah Ahlu Sunnah Wal Jamaah Bag.7
Kedelapan: Dilarang mentakwilkan aqidah.
Sebagaimana yang sudah dijelaskan pada edisi sebelumnya bahwa berbicara masalah aqidah adalah berbicara masalah hal yang ghaib.
Nah karena berbicara masalah hal yang ghaib maka dilarang bagi kaum muslimin untuk metakwil-takwilkan dalam memahaminya. Kecuali apabila ada dalil syar’i dari Al Qur’an maupun As Sunnah atau ada keterangan dari para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Apabila tidak ada dari keduanya maka dilarang menjelaskannya dengan cara ditakwil-takwilkan. Lihat; ASH SHAWAA-IQ AL MURSALAH, karya Ibnul Qayyim (Al Mukhtashar/ringkasan), hal. 10-90.
Sebab apabila dicoba/dipaksa untuk menerangkan persoalan aqidah dengana cara ditakwilkan pasti akan ada kejanggalan.
Sebagai contoh; (ternyata saat ini) ada sekelompok kaum muslimin yang tidak mempercayai adanya siksa kubur.
Mereka berargumen; bila saat ini ada kaum muslimin yang meninggal dunia lalu dikuburkan. Sedangkan dia sering melakukan kemaksiatan. Bukankah dia pasti akan mendapatkan siksa kubur?

Lalu manusia terdahulu, anak cucu nabi Adam langsung (tanpa perantara), kemudian mereka meninggal dunia (karena banyaknya kemaksiatan) maka dia akan disiksa di alam kubur.
Bukankah itu amat sangat lama siksanya?
Sedangkan kelak di akhir zaman, justru bisa jadi (ini kata orang yang tidak percaya adanya siksa kubur) ada orang kafir yang mati lalu langsung terjadi hari Kiamat.
Nah bukankah orang-orang kafir di akhir zaman kelak tidak akan pernah mengalami siksa kubur?
Dari sini saja sudah ketahuan bahwa perkara aqidah adalah perkara ghaib. Yaitu perkara yang tidak bisa ditakwil-takwilkan kecuali bila ada dalil-dalil syar’i yang bisa mendukungnya.
Seperti nabi Sulaiman ‘alaihi salam yang telah Allah beri fadhilah berupa beliau diberi kemampuan untuk memimpin jin, manusia dan hewan. Bahkan beliau sendiri juga mampu berkomunikasi dengan semua bawahannya.
Salah satunya adalah beliau bisa berbicara dengan jin, bawahannya.
قَالَ يَاأَيُّـهَـاالْمَـلَؤُا أَيُّـكُـمْ يَـأْتَـيْنِى بِـعَرْشِـهَـاقَـبْلَ أَنْ يَـأْتُوْنِى مُسْـلِـمِيْنَ. قَالَ عْـفْريْـتٌ مِنْ الْـجَنِّ أَنَـا آتِـيْكَ بِهِ قَـبْلَ أَنْ تَـقُوْمَ مِنْ مَّـقَـامِـكَ، وَإِنِّى عـلَيْهِ لَـقَوِيٌّ أَمِـيْنٌ.
Berkata Sulaiman, “Wahai para pembesar, siapakah di antara kalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri?”. Berkata ‘Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin, “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu, sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya”. Qs. An Naml 38-39.
Dari dua ayat di atas menunjukkan bahwa perkara aqidah (dalam hal ini; jin) yang sebenarnya tidak bisa dilihat oleh kasat mata. Tetapi di kedua ayat tersebut Allah menceritakan tentang dialog antara nabi Sulaiman dengan bawahannya (termasuk jin). Nah hal seperti ini bisa diterima.
Hal itu berbeda dengan analog sebagian kecil kaum muslimin yang sudah diterangkan di atas. Sebab perkara yang coba mereka cerna dengan akal sehatnya malah justru menjerumuskan pelakunya menjadi tidak percaya dengan adanya siksa kubur yang telah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam kabarkan. Na’udzu billah min dzalik.
Wallahu a’lam.
Oleh: Abu Ibrahim
Sedang mencari karpet untuk masjid, kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, Permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

