Su’ul kahtimah (akhir yang buruk).
3. Mencintai dan terbiasa dengan dosa.
Ini adalah musibah paling besar bagi umat manusia. Yaitu ketika dia telah kecanduan dengan kemaksiatan dan dosa. Sehingga ketika ada peringatan (dakwah) baginya seperti sinar yang menyilaukan mata. Hal itu membuat seakan matanya menjadi tidak bisa melihat “kebenaran”.
كَلَّا بَـلْ رَانَ عَـلَى قُـلُوْبِـهِأم مَّا كَـانُوْا يَـكْسِـبُوْنَ.
Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahan itu menutupi hati mereka. Qs. Al Muthaffifiin 14.
Ya, kesilauan matanya ketika seseorang terlalu lama di tempat-tempat gelap itu membuat dirinya serasa asing tatkala ada kilatan sinar (dakwah) dihadapannya. Hal itu disebabkan terlalu lamanya dia berinteraksi dengan dunia kegelapan.

Maka tidak heran bila ayat di atas maknanya diterangkan oleh hadits berikut ini:
عَنْ أَبِـى هُـرَيْـرَةَ عَـنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلم قَـالَ: إِنَّ الْعَـبْدَ إِذَا أَخْـطَأَ خَطِيْـئَـةً نُـكِتَـتْ فِى قَـلْبِـهِ نُـكْـتَـةٌ سَوْدَاءُ، فَـإِذَا هُوَ نَـزَعَ وَاسْـتَـغْـفَـرَ وَتَـابَ سُـقِلَ قَـلْـبُهُ، وَإِنْ عَـادَ زِيْـدَ فِـيْـهَا حَتَّـى تَـعْلُـوَ قَـلْبَـهُ وَهُـوَ رَانُ الَّذِى ذَكَـرَ اللهُ (كَـلَّا بَـلْ رَانَ عَـلَى قُـلُوْبِـهِـم مَا كَـنُوْا يَـكْسِـبُوْنَ.
Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam , beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan (dosa), maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila dia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila dia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hihtam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang disitilahkan “Ar Raan” yang Allah sebutkan dalam firmna-Nya (yang artinya), “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahan itu menutupi hati mereka. Qs. Al Muthaffifiin 14”. Diriwayatkan Tirmidzi no. 3334, Ibnu Majah no. 4244, Ibnu Hibban 7/77 dan Ahmad 2/297. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits in Hasan shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.
Syaikh Muhammad Muflih Syamsuddin Al Maqdisi (wafat 763 H), dalam salah satu kitabnya mengatakan:
إِنَّ الْعِـبْدَ إِذَا أَذْنَـبَ نُـكِتَ فِى قَـلْبِـهِ نُـكْـتَـةٌ سَوْدَاءُ ثُـمَّ إِذَا أَذْنَـبَ نُـكِـتَ فِى قَـلْبِـهِ نُـكْـتَةٌ سَوْدَاءُ حَتَّـى يَـبْقَى أَسْوَدَ مُرْبَـدًّا لَا يَـعْرِفُ مَـعْرُوْفًـا وَلَا يُـنْكِـرُ مُنْـكَـرًا.
“Sungguh apabila seorang hamba melakukan dosa, maka akan ditulis dalam hatinya seuah titik hitam. Kemudian jika melakukan dosa (kembali) maka akan ditulis dalam hatinya sebuah titik hitam, sampai (hatinya) tersisa menjadi hitam selamanya. Dia tidak akan mengetahui kebenaran, dia juga tidak akan ingkar pada kemungkaran”. (Syamsuddin Al Maqdisi, Al Adabusy Syar’iyyah, Daarul ‘Alam: 1999, juz 1 hal. 188).
Oleh karenanya, segeralah istighfar dan bertaubat agar titik noda dalam hati bisa hilang dan kembali bersih. Bila tidak maka akan ditakutkan bila ajal menjelang, akan susah mengucapkan dua kalimat syahadat. Kalimat yang ringan diucapkan namun berat timbangannya di sisi Allah Ta’ala. Akan tetapi sangat berat diucapkan pada orang-orang yang hatinya dipenuhi noda-noda hitam.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
