Perjalanan Menjemput Ajal Bag.62
Ajal, sebuah keniscayaan.
Semua pasti tahu bagaimana kisahnya Fir’aun yang begitu sombong hingga dia mengangkat dirinya sebagai tuhan.
فَـقَـالَ أَنَـا رَبَّـُكُـمُ الْأعْـلَى.
Fir’aun (seraya) berkata, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi”. Qs. An Naazi’aat 24.
Dia sampai berani mengucapkan seperti itu karena dirinya merasa tidak pernah sakit, semua kekuasaan ada di tangannya dan semua rakyat tunduk kepadanya.
Dengan begitu seakan dirinya benar-benar sempurna. Padahal bila dia mau jujur sebenarnya diapun sering sekali tidak berdaya ketika Allah memberikan beberapa teguran kepadanya. Mulai dari darah, katak dan selain dari keduanya.

Dan saat itu dia selalu memanggil nabi Musa alaihi salam lalu memintanya agar nabi Musa mau berdoa kepada Allah lalu memohonkan agar ‘bencana’ yang menimpa dirinya dicabut.
Tetapi setelah dicabut ya Fir’aun kembali berlaku aniaya terdirinya sendiri, yakni berupa kufur dan sombong. Serta menyuruh rakyatnya agar menyembahnya.
Terakhir, ketika sudah sampai apda puncak kedzalilmannya, Fir’aun mengejar nabi Musa dan kaumnya untuk ditangkap, disiksa dan dibunuh.
Mengetahui hal itu maka nabi Musa dan kaumnya pun lari dari kejaran Fir’aun. Hingga sampai di tepi pantai, akhiranya kaumnya nabi Musa bingung dan panik. Sebab Fir’aun dan bala tentaranya semakin lama semakin dekat.
Dan setelah Allah memerintahkan nabi Musa agar memukulkan tongkatnya ke pantai maka terbelahlah lautan itu dengan izin Allah. Lalu nabi Musa dan kaumnya berjalan di antara belahan pantai itu sementara Fir’aun dan bala tentaranya lari mengejar dari belakang mereka.
Tetapi karena memang dasarnya Allah ‘membelah’ lautan itu bertujuan untuk menyelamatkan nabi Musa dan kaumnya. Ya akhirnya air laut itu kembali menutup atau bersatu kembali pada saat kaumnya nabi Musa sudah melewatinya.
Adapun Fir’aun dan bala tentaranya karena bukan kaumnya nabi Musa dan justru mengejar nabi Musa dan kaumnya dengan tujuan ingin menangkapnya lalu menyiksa atau bahkan membunuhnya. Ya akhirnya justru terbalik! Fir’aun dan bala tentaranyalah yang justru terperangkap dalam air lautan dan tenggelam.
Dan saat itulah Fir’aun akhirnya menyadari bahwa ternyata kematian itu adalah suatu keniscayaan yang pasti akan ‘menyapa’ siapa saja dari setiap manusia yang hidup. Dan di saat seperti itu kemudian Fir’aun menyadari bahaya yang benar-benar sedang mengintainya (kematian). Lalu Fir’aun berucap:
وَجَـاوَزْنَـا بِـبِنِـي إِسْرَائِـيْلَ الْبَـحْرَ فَـأَتْـبَـعَـهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُـنُـوْدُهُ بَـغْيـًاوَ عَـدْوًا، حَتَّـى إِذَا أَدْرَكَـهُ الْغَـرَقُ قَالَ آمَنْـتُ أَنَّـهُ لَا إلَهَ إِلَّا الَّذِى آمَنَـتْ بِـهِ بَـنُوا إِسْرَائِـيْلَ وَأَنَـا مِنَ الْمُسْـلَمِـيْنَ.
Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia, “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. Qs. Yunus 90.
Begitu sebaliknya, bagi orang-orang yang ketakutan pada kematian. Ketahuilah bahwa bagaimanapun dan dalam keadaan apapun serta di manapun manusia itu berada, bila kematian sudah saatnya maka tidak ada seorangpun yang mampu menahannya. Atau tidak ada kekuatan manapun yang sanggup menahannya.
Wallahu a’lamu bish shawaab.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
