Perjalanan Menjemput Ajal Bag.49
Jiwa yang hampa. –lanjutan-
Ternyata dalam masalah dan persoalan hidup antara orang-orang mukmin dan orang-orang kafir itu sangat berbeda; bagaikan langit dan bumi. Bila orang-orang mukmin jiwanya selalu disandarkan kepada Allah Ta’ala, sementara orang-orang kafir jiwanya ‘tersandera’ entah kemana.
Hal itu bisa dilihat dari kisah-kisah yang Allah abadikan dalam beberapa surat di atas. Sementara hidupnya orang-orang kafir ‘tersandera’ oleh dunia. Sehingga mereka sering dibuat bingung dengan ulah dan tingkah mereka sendiri. Padahal jauh-jauh hari sebelumnya mereka telah mengupayakan hal ini (impiannya). Tetapi setelah impiannya itu tercapai mereka justru bingung dan frustasi.
Bukankah sering didengar kabar berita tentang para artis dan selebritis yang matinya mengenaskan –entah karena narkoba atau bahkan bunuh diri-? Padahal jika dilihat dari sisi finansial mereka sudah terpenuhi. Pamor? Jelas mereka saangat terkenal, bahkan ada yang sampai ke seluruh penjuru dunia.
Tetapi kenyatanya hati mereka masih gersang!

Malik bin Dinar pernah berkata, “Penghuni dunia telah keluar darinya dan sekalipun belum merasakan yang terbaik yang pernah ada di dunia”.
Lalu ada yang bertanya –karena pernyataannya ini-, “Apa gerangan yang dimaksud dengan belum merasakan yang terbaik yang pernah ada di dunia?”.
Mallik bin Dinar menjawab, “Mengetahui (ma;rifat kepada ) Allah Ta’ala”.
Daud Ath Tha’iy berkata, “Jadikanlah dunia seperti hari di mana kamu melakukan puasa kemudian berbuka pada saat mati”.
Pernah Al Hasan bertanya kepada Abu Sa’id, “Wahai Abu Sa’id, siapakah ahli fikih itu?”.
Abu Sa’id menjawab, “Orang yang zuhud di dunia, yang cinta terhadap akhirat, mengetahui persis agamanya dan giat dalam beribadah. Itulah ahli fikih”.
Al Khurasani berkata, “Aku tidak menasehatimu untuk memikirkan kehidupan duniamu, karena aku tahu kamu tamak terhadapnya. Tetapi aku menasehati kamu untuk urusan akhiratmu.
Ambillah dari kehidupan yang sementara ini, untuk sesuatu yang kekal.
Pikirkanlah kehihdupan ini sebagai sesuatu yang akan kamu tinggalkan; aku bersumpah, demi Allah, kamu akan meninggalkannya. Pikirkanlah kematian sebagai sesuatu yang kamu rasakan. Aku bersumpah, demi Allah, kamu (pasti) akan merasakannya.
Dan pikirkanlah akhirat sebagai rumah yang akan kamu kunjungi; aku bersumpah, demi Allah, kamu akan berada di sana”.
يَوْمَ لَا تَـمْلِكُ لِنَـفْسٍ شَيْـئًـا، وَالْأَمْرُ يَوْمَـئِذٍ لّلَّهِ.
(Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikit pun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah. Qs. Al Infithaar 19.
Wallahu a’lamu bish shawaab.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
