Perjalanan Menjemput Ajal Bag.45
Kekekalan itu. –lanjutan-
Sesungguhnya apabila ingin melihat contoh seseorang yang paling buruk perangainya padaha; dia sudah mendapatkan banyak peringatan dari Allah Ta’ala adalah Fir’aun. Sampai-sampai semua orang memberinya gelar LAKNATULLAH ‘ALAIHI. Kenapa?
Sebab selain sudah mendapatkan banyak peringatan, sebenarnya dia juga sudah mengetahui bahwa jabatannya sebagai raja pun tidak kekal. Hanya sebatas sampai akhir hayatnya di dunia saja! Tidak lebih.
Makanya tidak heran bila kemudian Fir’aun laknatullah ‘alaihi dalam mengejar nabi Musa ‘alaihi salam sampai segitunya, yakni ketika lautan terbelah menjadi dua; dan itu sebagai jalan bagi nabi Musa ‘alaihi salam dan para pengikutnya. Tetapi Fir’aun tetap saja ngotot mengejar. Padahal dia tahu bahwa kemungkinan besar lautan itu akan kembali menjadi satu setelah nabi Musa ‘alaihi salam dan para pengikutnya menyeberanginya.

Tetapi ya itu tadi, karena hatinya telah dihinggapi nafsu kekuasaannya yang tinggi; dia ingin terus menerus berkuasa. Akhirnya dia dan pasukannya yang ikut justru Allah Ta’ala tenggelamkan dalam lautan itu sebelum mereka menangkap nabi Musa ‘alaihi salam dan apara pengikutnya.
Oleh sebabnya itu seharusnya manusia pada zaman terkini –karena sudah begitu banyak informasi- sadar bahwa sebenarnya umur manusia itu sangat pendek, kesenangannya pun juga terbatas dan kenikmatannya juga akan segera sirna.
Abu Hazim Salamah bin Dinar menjelaskan sifat-sifat dunia dengan perkataannya, “Kenikamatan dunia yang telah berlalu adalah mimpi, dan yang masih tersisa adalah harapan-harapan belaka”.
Al Hakim berkata, “Kami mencari empat tujuan, tetapi kami mengambil jalan yang keliru. Kami mencari kekayaan dalam bentuk uang sedangkan kekayaan yang hakiki ada pada kepuasan hati. Kami mencari kenyamanan dalam banyaknya harta, tetapi ternyata kenyamanan berada pada sedikitnya harta. Kami mencari derajat di mata manusia, tetapi ternyata derajat yang hakiki berada di dalam keshalihan. Kami mencari kenikmatan di dalam makanan dan pakaian, tetapi ternyata kenikmatan itu ada pada Islam”.
Al Khurasani berkata, “Aku tidak menasehati kamu untuk memikirkan kehidupan duniamu, karena aku tahu kamu tamak terhadapnya. Tetapi aku menasehati kamu untuk urusan akhiratmu. Ambillah dari kehidupan yang sementara ini, untuk sesuatu yang kekal. Pikirkanlah kehidupan ini sebagai sesuatu yang akan kamu tinggalkan; aku bersumpah, demi Allah Ta’ala, kamu akan meninggalkannya. Pikirkanlah kematian sebagai sesuatu yang pasti akan kamu rasakan; aku bersumpah, demi Allah Ta’ala, kamu akan merasakannya. Dan pikirkanlah akhirat sebagai rumah yang akan kamu kunjungi; aku bersumpah, demi Allah Ta’ala, kamu akan berada di sana”.
Syaqiq Al Balkhi berkata, “Manusia mengatakan bahwa mereka adalah hamba Allah; padahal mereka menganggap dirinya sebagai orang bebas. Mereka bilang bahwa Allah Ta’ala menjamin rezeki mereka , tetapi hati mereka bangga dengan mengumpulkan kenikmatan dunia. Mereka bilang bahwa kematian tidak terelakkan, tetapi mereka bersikap seolah-olah mereka tidak akan mati. Maka perbuatan mereka bertentangan dengan apa yang mereka katakan”.
Wallahu a’lamu bish shawaab.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
