Perjalanan Menjemput Ajal Bag.17
Ada sebuah pernyataan dalam sebuah pidato seorang ustadz. Beliau mengatakan bahwa pelajaran yang paling berharga adalah ketika seseorang melihat orang yang sedang sakaratul maut.
Ya, karena sakaratul itu sebuah perjalanan perpisahan antara jasad dan ruh manusia. Yang saat itu manusia yang sedang mengalami sakaratul maut sangat membutuh tolongan khusus; yakni talqin (bimbingan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat). Walaupun juga tidak sedikit dari orang-orang yang sedang mengalami sakaratul maut itu mengingat kebiasaannya di masa hidupnya. Seperti (bagi orang shalih) membaca –melantunkan- Al Qur’an, istighfar, takbir berulang-ulang dan sebagainya. Namun bagi pelaku maksiat dia sering mengulang-ulang kalimat-kalimat buruk yang terlontar dari lisannya.

Cobalah lihat bagaimana seorang ulama yang shalih di saat menjelang ajalnya. Disebutkan; Abu Ubaidah An Naji berkata, “Kami berkunjung ke rumah Hasan Al Basri saat beliau akan meninggal dunia. Beliau berkata, “Selamat datang wahai saudara-saudara sekalian. Semoga Allah Ta’ala memberi kalian keselamatan. Semoga Allah memberikan kepada kita anugerah surga sebagai tempat tinggal kita. Ini adalah ucapan yang terus terang, yang baik, bila kalian jujur dan sabar. Jangan sampai kalian hanya mendengarnya dengan telinga, lalu mengeluarkannya lagi dari lisan kalian. Karena, barangsiapa pernah melihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, pasti kalian akan mengetahui bahwa beliau selalu datang dan pergi. Tidak pernah meletakkan batu bata atau menegakkan tiang bambu untuk membangun tempat tinggal tetap. Akan tetapi beliau hanya menggantungkan panji, lalu bekerja menyingsingkan lengan bajunya.
Wahyu adalah wahyu, dan keselamatan adalah keselamatan. Atas dasar apa kalian hendak mengangkat diri? Demi Rabb Ka’bah, ternyata kalian ragu. Seolah, semua peristiwa terjadi bersamaan. Semoga Allah Ta’ala memberi rahmat kepada orang yang menjadikan hidup itu satu saja, memakan dunia dari ampas-ampasnya saja, memakai pakaian yang terkoyak. Namun dia rajin beribadah dan menyesali kesalahan diri sendiri, menghindar dari siksa Allah dan mencaritahmat-Nya”.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Manusia, dalam kehidupan ini terbagi menjadi empat macam. Pertama; manusia yang padanya Allah Ta’ala memberi harta dan ilmu. Dia bertaqwa kepada Allah, suka mengunjungi kerabatnya dan mengetahui hak Allah Ta’ala –dan ini adalah posisi yang terbaik-.
Kedua; manusia yang padanya Allah Ta’ala memberi ilmu tanpa harta, dan dia berkata dengan niat yang baik, “Jika aku memiliki uang seperti orang itu (yang pertama), maka aku akan melakukan seperti yang dia lakukan”. Dengan niat baik ini, pahalanya akan sejajar dengan orang yang pertama.
Ketiga; adalah manusia yang padanya Allah Ta’ala memberi harta tapi tanpa ilmu. Lalu dia membelanjakan hartanya tanpa perencanaan, tidak takut kepada Allah Ta’ala, tidak mengunjungi kerabat dan tidak mengetahui hak Allah Ta’ala, dan ini adalah posisi ini adalah yang paliing buruk.
Adapun manusia keempat; adalah seseorang yang padanya Allah Ta’ala tidak memberikan harta maupun ilmu. Lalu dia berkata, “Jika aku memiliki harta, aku akan melakukan seperti orang itu (yang ketiga), maka dengan niatannya itu dia akan memiliki dosa yang sama dengan dosa orang ketiga”. Diriwayatkan Ahmad dan Tirmidzi.
Oleh karena itu waspadalah terhadap tipu daya dunia.
Wallahu a’lamu bish shawaab.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
