Imam Adz Dzahabi berkata, ‘kami mendapatkan kabar dari Ishaq bin Abu Bakar, kami mendapatkan berita dari Ibnu Khalil, kami mendapatkan berita dari Abul Makarim Al Labbaan, kami mendapatkan berita dari Abu Ali Al Maqra’i, kam mendapatkan baerita dari Abu Nu’aim Al Hafidz, kami mendapatkan informasi dari Yusuf bin Ya’qub An Najirmi, kami mendapatkan informasi dari Hasan bin Mutsanna, kami mendapatkan kabar dari ‘Affan, kami mendapatkan kabar dari Hammaam, saya mendengar Qatadah berkata, ‘Kami mendapatkan kabar dari Mutharrif, dia berkata, ‘Kami biasa mendatangi Zaid bin Shuhan dan dia biasa berkata, “Wahai hamba-hamba Allah! Berkomitmenlah dan bermurah hatilah. Karena sesungguhnya wasilah seorang hamba kepada Allah adalah (harus) melalui dua sifat; khauf (rasa takut kepada Allah) dan thama’ (dalam beramal shalih)”.
Maka pada suatu hari saya (Mutharrif) datang kepadanya, dan saat itu sedang ada kegiatan menulis surat. Dalam surat itu mereka menyusun kata-katanya seperti berikut:

Sesungguhnya Allah adalah Tuhan kami, Muhammad adalah nabi kami dan Al Qur’an imam kami. Barangsiapa yang bersama kami maka dia adalah bagian dari kami. Dan barangsiapa yang berseberangan dengan kami maka tangan kami akan berada di atas mereka dan kami akan selalu ada.
Mutharrif berkata, “Maka dia mulai memberikan kitab (panduan) itu kepada mereka (murid-muridnya). Satu persatu mereka berkata, ‘Apakah kamu mengakuinya wahai Fulan?’
Hingga ada dari mereka yang mendatangi saya, lalu mereka bertanya kepada saya, ‘Apakah engkau mengakuinya, wahai Ghulam?’.
Saya jawab, “Tidak. Saya tidak mengakuinya”.
Kemudian dia (maksudnya Zaid) berkata, “Jangan terburu-buru, Ghulam. Apa yang yang engkau ucapkan, wahai Ghulam?”.
Saya jawab, “Allah Ta’ala telah membuat perjanjian kepasa saya di dalam kitab-Nya (Al Qur’an). Maka saya tidak akan membuat perjanjian selain perjanjian yang telah Allah buat kepada saya”.
“Kemudian ada banyak dari mereka akhirnya membatalkan perjanjian dengan Zaid bin Shuhan tersebut. Dan ternyata jumlah mereka sekitar tiga ratusan orang”. Terdapat pada kitab Siyaru A’laamin Nubalaa’ 4/193.
Subhaanallah! Inilah salah satu karakter dari salafush shalih. Dia sangat kuat dalam berpegang teguh pada Al Haq. Meskipun saat itu belilau (Mutharrif) seorang diri dan ‘dilingkari’ oleh banyak murid-murid dari Zaid tetapi beliau tetap berani menolak. Beliau tahu dan sadar konsekwensinya bila menolak tetapi tetap saja beliau katakan yangs sebenarnya, yakni, “Tidak”.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
