Dari Abul Ahwash, dari Abdullah (bin Mas’ud radliyallahu ‘anhu), beliau berkata, “Jangan ada dari kalian yang melakukan taklid kepada siapapun dalam perkara agama sehingga apabila dia beriman (kamu) ikut beriman dan apabila dia kafir (kamu) ikut pula kafir. Jika kamu ingin mencari teladan, ambillah contoh dari orang-orang yang telah meninggal, sebab yang masih hidup itu tidak aman dari fitnah”. Terdapat pada kitab Shiffatush Shafwah 1/421.
Setidaknya pesan dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radliyallahu ‘anhu ini bisa memberikan jawaban kepada kaum muslimin belakangan ini. Yaitu agar berhati-hati dalam melakukan taklid kepada seseorang yang dianggapnya sebagai seseorang yang memiliki kelebihan dalam hal agama.
Sebab sudah berapa banyak contoh kasus orang-orang terdahulu yang seakan dia memiliki keshalihan tetapi kenyataannya dia berakhir dengan kematian yang tragis, yakni mati su’ul khatimah (mati yang buruk).
Lihatlah bagaimana Rajjal bin Unfuwal. Semasa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam masih hidup, dia termasuk orang yang shalih. Ya, dia sering shalat di belakang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Dan bahkan dia pun sering ikut berjuang berjihad di jalan Allah bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.

Namun setelah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam meninggal lalu kepemimpinan dipegang Abu Bakar Ash Shiddiq radliyallahu ‘anhu, kemudian terjadi banyak orang-orang murtad, maka khalifah Abu Bakar memberantas orang-orang yang murtad. Terlebih lagi mereka yang memiliki kelompok dan kekuatan riil yang tentunya akan mampu merongrong kewibawaan kekhalifahan Islam.
Nah saat pasukan Islam memerangi pasukan Musailamah Al Kadzdzab itu barulah diketahui bahwa ternyata Rajjal bin Unfuwah termasuk dalam barisannya Musailamah Al Kadzdzab. Tidak hanya itu, Rajjal sendiri juga termasuk orang intinya dari Musailamah Al Kadzdzab. Yakni dia yang mampu menipu banyak manusia dengan mengatakan bahwa dirinya dahulu adalah pengikut Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.
Lalu dari lisannya pulalah dia berdusta dengan mengatas namakan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.
Selain itu Allah sendiri juga telah menunjukkan kepada kaum muslimin tentang Qarun. Sebagaimana terdapat pada Al Qur’an.
إِنَّ قَـارُوْنَ كَانَ مِن قَوْمِ مُوْسَى فَـبَـغَى عَـلَيْـهِمْ، وَآتَيْـنَـاهُ مِنَ الْكُـنُوْزِ مَآ إِنَّ مَـفَـاتِـحَـهُ لَـتَـنُوْأُ بِـالْعُـصْبَـةِ أُوْلِـى الْقُـوَّةِ إِذْ قَالَ لَـهُ قَوْمُـهُ لَأ تَـفْـرَحْ، إِنَّ اللهَ لَا يُـحِـبُّ الْفَـرِحَـيْنَ.
Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum musa, maka dia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri. Qs. Al Qashshash 76.
Ternyata Qarun sendiri tadinya juga seorang yang shalih. Tetapi ternyata di akhir hidupnya dia sangat tragis juga.
Oleh karenanya, sesuai dengan pesan Abdullah bin Mas’ud radliyallahu ‘anhu agar jangan terlalu mengikuti orang yang masih hidup. Sebab mereka masih akan mengarungi ujian kehidupan. Namun berbeda dengan orang-orang yang sudah meninggal. Maka sesungguhnya tidak akan pernah lagi mendapatkan ujian di dunia lagi.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
