Para Salaf sangat Zuhud Bag.13 d

Abu Abdullah, seorang alim lagi berilmu, beliau marah besar ketika mengetahui tamu yang tadinya datang disuguhi dengan burung hasil perburuannya dan ditambah dengan roti dan garam. Sebab mereka kembali datang bukan untuk bertamu seperti sebelumnya, melainkan kembali datangi dengan membawa uang dan alat kebutuhan hidupnya!

Ya, sebab Abu Abdullah sangat merasa nyaman dengan hidupnya saat itu. Jadi beliau tidak mau ‘meningkatkan’ taraf hidupnya agar lebih layak, melainkan beliau memang memilih untuk hidup zuhud. Sebab jika mau tentu Abu Abdullah cukup memasang tarif dalam mengajarkan agama kepada penduduk bukan? Sehingga Abu Abdullah tidak perlu repot-repot menjadi memburu burung binatang lainnya yang halal.

Sebab dengan hidup zuhud itu Abu Abdullah benar-benar bisa merasakan bagaimana kehidupannya orang-orang fakir dan miskin.

Lalu bagaimana dengan Ibrahim bin Syabib bin Syaibah?

Ya jelas Ibrahim bingung saat itu. Terutama bingung nantinya jika bertemu dengan amir (pemimpin) Bashrah, Muhammad bin Sulaiman. Dan akhirnya Ibrahim bin Syabib bin Syaibah pun menyampaikan apa adanya kepada amir Bashrah, Muhammad bin Sulaiman.

Kemudian Muhammad bin Sulaiman berkata, “Dia berfaham Haruri (sempalan Khawarij, pen). Demi Allah. Wahai anak muda (maksudnya budak, pen). Ambilkan pedang untuk saya”.

zuhudnya salaf

Lantas budaknya datang dengan membawa pedang. Lalu Muhammad bin Sulaiman berkata kepada Ibrahim, “Pegang tangan anak ini sampai dia membawamu kepada Abu Abdullah. Jika dia membawanya kepadamu penggallah kepalanya dan bawakan kepalanya”.

Ibrahim bin Syabib bin Syaibah berkata, ‘Maka saya berkata, “Semoga Allah memberkati amir (Bashrah). Allah adalah Allah. Demi Allah, dia bukanlah khawarij”.

Kemudian Ibrahim bin Syabib bin Syaibah berjanji akan ke rumah Abu Abdullah dan membawanya kepada amir Bashrah.

Sesampainya di rumah Abu Abdullah, Ibrahim bin Syabib bin Syaibah mengetuk pintu. Istri Abu Abdullah keluar dengan berurai air mata. Ibrahim bin Syabib bin Syaibah ditanya istrinya, “Ada apa antara kamu dengan Abu Abdullah?”.

Saya (Ibrahim bin Syabib bin Syaibah) balik bertanya, “Bagaimana kabarnya dia?”.

Istrinya menjawab, “Dia tahu-tahu masuk ruang shalat lalu berwudhu’ (dan shalat) kemudian saya mendengar dia berdoa, ‘Ya Allah. Ambillah aku sekarang. Aku tidak ingin memperoleh bencana karena harta’.

“Kemudian setelah itu dia sudah tidak bernyawa lagi”, lanjut cerita istrinya.

Ibrahim bin Syabib bin Syaibah pun memeriksa tubuh Abu Abdullah, dan dia mendapati bahwa Abu Abdullah memang benar-benar telah meninggal dunia. Ibrahim bin Syabib bin Syaibah merasa ta’ajub dengan apa yang dia saksikan. 

Lalu dia menceritakan peristiwa itu kepada amir Bashrah. Sang amir berkata, “Saya akan pergi, lalu saya akan shalat atasnya”. Terdapat pada kitab Shiffatush Shafwah 4/9-12.

Wallahu a’lamu bish shawaab.

By: Abu Ibrahim.

leader banner alhidayat karpet

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button