Para Salaf sangat Zuhud Bag.13 b

Jika melihat dari kisah di atas, sungguh luar biasa. Seorang Abu Abdullah yang mampu membuat kelompok penimba ilmu (majlis) itu menjadi seru dan ramai ternyata beliau sama sekali tidak malu ketika harus mencari nafkah. 

Hal itu terlihat ketika sekelompok teman majlisnya yang dari kota Madinah mencarinya. Dan saat bertemu, beliau tidak bersegera ‘bersembunyi’ agar tamu yang mencarinya mengetahui pekerjaan yang sesungguhnya. Padahal seringnya hari ini banyak ketika ada orang (teman) yang  datang dari kota, dia akan bersembunyi agar tidak tahu pekerjaan aslinya bila memang dipandangnya sebagai pekerjaan yang ‘hina’. Padahal menurut para salafush shalih, semua pekerjaan yang memang halal itu sama sekali tidak memalukan.

Bahkan pada lanjutan dari kisah di atas disebut;

Abu Abdullah pun menjelaskan bahwa pada waktu itu beliau menggunakan baju pinjaman dari salah seorang tetangganya. Dan waktu itu sang tetangga (yang bajunya dipinjam) memutuskan untuk melakukan perjalanan hingga Abu Abdullah harus mengembalikan baju tersebut.

“Aku tidak bisa datang ke majlis karena tidak ada baju yang harus aku pakai”, pungkas Abu Abdullah dalam ceritanya.

majelis ilmu para salaf

Akhirnya Abu Abdullah mengajak para tamunya masuk rumah. Setelah masuk rumah Abu Abdullah menuju dapur lalu menyerahkan burung-burung hasil tangkapannya yang sudah disembelih kepada istrinya. Sedangkan burung yang masih hidup masih dipegang oleh Abu Abdullah sendiri.

Tidak lama kemudian Abu Abdullah pamitan kepada tamu hendak keluar sebentar untuk pergi ke pasar. Di sana Abu Abdullah menjual burung tangkapannya yang masih hidup lalu hasil penjualannya dibelikan roti lalu pulang ke rumah.

Sementara itu istrinya memasak burung dan menghidangkannya kepada mereka masakan burung dengan garam, roti dan air. 

Dari sini para rombongan tamu dari Madinah itu merasa prihatin dengan kehidupannya Abu Abdullah. Sehingga seusai menerima jamuan ada salah seorang dari rombongan yang bertanya kepada rombongan lainnya, “Apakah kalian pernah melihat sesuatu seperti ini?”.

“Maukah kalian mengubah keadaannya sementara kalian adalah penguasa Basrah?”, lanjutnya.

Kemudian yang lain berkata, “Saya siap dengan dana lima ratus”.

Sementara yang lain lagi, “Saya siap dengan dana tiga ratus”. 

Sedangkan yang lain secara berkesinambungan menyatakan kesiapan setiap dananya masing-masing dari mereka berbeda-beda. Bahkan ada yang siap menjamin dari orang lain untuk mengambil dananya.

Akhirnya terkumpullah dana sejumlah lima ribu dirham. 

Maka mereka berkata, “Mari kita pergi untuk memberikan dana ini kepadanya. Semoga beliau bisa menggunakan dana ini”.

Insya Allah berlanjut.

Wallahu a’lamu bish shawaab.

By: Abu Ibrahim.

leader banner alhidayat karpet

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button