Kebanyakan manusia hari ini tentu tidak senang bila dirinya tidak terkenal. Tetapi sebaliknya, bila terkenal dan tenar maka dia pasti senangnya luar biasa. Hal ini sangat berbeda dengan prinsipnya para salafush shalih. Mereka justru inginnya tidak terkenal dan mereka juga sering memberi nasehat kepada murid-muridnya agar menghindari hal-hal yang membuat dirinya dan murid-muridnya menjadi terkenal.
Dari Husain bin Hasan Al Marwazi, beliau berkata, Abdullah bin Mubarak rahimahullah berkata, “Jadilah orang yang menyenangi ‘khumuul’ (tidak dikenal) serta membenci popularitas. Dan janganlah engkau tampakkan dari dirimu bahwa engkau menyenangi ‘tidak dikenal’ itu untuk meninggikan dirimu sendiri. Sesungguhnya mengklaim dirimu sebagai orang zuhud (justru) akan mengeluarkanmu dari kezuhudan. Sebab engkau telah dengan sengaja (mau menerima) pujian dan sanjungan untuk dirimu sendiri”. Terdapat pada kitab Shiffatush Shafwah 4/137.
Kenapa para salafush shalih menghindarkan diri agar tidak terkenal (masyhur/populer) di tengah-tengah masyarakat?
Ternyata jawabannya sangat luar biasa. Sebab dengan banyak orang yang tidak tahu tentang dirinya maka mereka akan dengan mudah mengetahui kondisi masyarakat yang sebenarnya. Bukan sebaliknya, masyarakat akan selalu berbuat ABS (Asal Bapak Senang) atau entah apalagi nama lainnya.

Coba lihat bagaimana Abdullah bin Mubarak berdesak-desakan saat ingin mengambil air minum. Bukankah beliau bahkan didorong-dorong dalam berdesakannya itu?
Padahal seandainya mereka tahu bahwa orang yang sedang berdesak-desakan dan mereka dorong adalah seorang ulama besar, tentu mereka akan melakukannya bukan? Bahkan mereka bisa dipastikan akan memberi jalan kemudahan bagi Abdullah bin Mubarak saat ingin mengambil air minum.
Begitu juga dengan Umar bin Khaththab radliyallahu ‘anhu saat menemui ibu janda yang memasak air dan pasir yang dikelilingi anak-anaknya kelaparan hingga mereka tertidur karena ‘tertipu’ masakan ibundanya mereka sendiri.
Di sana sang ibu itu mengatakan bahwa tidak akan mungkin seorang Umar bin Khaththab radliyallahu ‘anhu mau datang ke sudut kota Madinah hanya untuk melihat rakyatnya yang miskin ini. Sebab, menurut janda miskin ini, di malam yang dingin ini Umar pasti sedang bercengkerama dengan keluarganya.
Ya, dengan tidak diketahuinya sosok seorang khalifah Umar bin Khaththab radliyallahu ‘anhu inilah akhirnya si janda miskin benar-benar bisa mengungkapkan uneg-unegnya. Berbeda ceritanya bila wajah khalifah Umar bin Khaththab radliyallahu ‘anhu familier di tengah-tengah masyarakat maka akan berbeda yang diucapkan si janda miskin ini.
Bisa jadi si janda miskin itu akan memuji-muji khalifah Umar bin Khaththab radliyallahu ‘anhu, meskipun anak-anaknya kelaparan.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
