Ahmad bin (Abi) Al Hawari, kami mendapatkan berita dari Abu Abdullah Al Anthaki, dia berkata, “Fudhail bin Iyadh (pernah) bertemu dengan Sufyan Ats Tsauri lalu mereka berdua saling mengingatkan (Allah) maka luluhlah hati Sufyan Ats Tsauri (hingga) menangis. Kemudian Sufyan Ats Tsauri berkata kepada Fudhail bin Iyadh, “Wahai Abu Ali, sesungguhnya aku sangat berharap majlis (pertemuan) kita ini menjadi rahmat dan berkah bagi kita”.
Lalu Fudhail bin Iyadh berkata kepadanya, “Namun wahai Abu Abdillah, aku takut jangan sampai majlis ini adalah suatu majlis yang mencelakakan kita”.
Sufyan Ats Tsauri bertanya, “Kenapa wahai Abu Ali?”.
Fudhail bin Iyadh menjawab, “Bukankah engkau telah memilih perkataanmu yang terbaik lalu engkau menyampaikannya kepadaku, dan aku pun telah memilih perkataanku yang terbaik lalu aku sampaikan kepadamu. Dengan begitu berarti engkau telah berhias untuk aku dan aku pun telah berhias untukmu”.
Kemudian Sufyan Ats Tsauri pun menangis dengan lebih keras daripada tangisannya yang pertama seraya berkata, “Engkau telah menghidupkan aku. Semoga Allah (pun) menghidupkanmu”. Terdapat pada kitab Siyaru A’laamin Nubalaa’ 8/439.
Inilah potret para ulama ahli sunnah. Yakni ketika mereka bertemu maka yang dibicarakan bukannya masalah dunia melainkan tentang urusan akhirat; mereka saling nasehat menasehati.

Dan anehnya mereka pun tidak pernah membanggakan dirinya sendiri, tetapi justru sebaliknya; mereka memuji-muji teman/saudaranya seiman. Bahkan mereka saling mendo’akan untuk kebaikan saudara tersebut.
Selain itu mereka sangat mengharapkan sering-sering bertemu agar bisa menjadi majlis ilmu yang bisa dijadikan sebagai penambah ilmu, wawasan, tempat saling nasehat menasehati sesama kaum muslimin dan sebagainya.
Ya, mereka benar-benar tidak ingin mensia-siakan sedikitpun waktunya terbuang percuma. Mereka juga tidak mau terjebak dalam angan yang menipu, yakni menganggap bahwa dirinya telah banyak beramal tetapi kenyataannya sia-sia amalnya.
Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan di dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya. Qs. Al Kahfi 104.
Maka tidak mengherankan bila Allah sendiri telah menyampaikan bahwa para ulama yang tsiqqah (dapat dipercayalah)-lah yang mewarisi sifat-sifat para nabi. Yakni tulus dalam menyampaikan risalah Islam ini tanpa ujub, sombong dan merasa benar sendiri. Bahkan mereka sangat senang bila saudaranya ada yan mengingatkannya bila mereka salah.
Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allahdi antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. Qs. Faathir 28.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
