Ahnaf berkata, “Tidak ada seorangpun yang membantahku kecuali aku telah mengambil alih kendaliku dalam berbagai urusan. Jika dia di atasku, aku mengakuinya”.
Pada riwayat lainnya, Ahnaf berkata, “Aku bukanlah orang yang toleran namun aku pura-pura toleran”. Terdapat pada kitab Siyaru A’laamin Nubalaa’ 4/92.
Perkataan Ahnaf untuk yang pertama; bila ada orang yang menghina secara fisik maka Ahnaf pasti akan membantahnya semampunya. Ahnaf berkeyakinan bahwa semua ciptaan Allah itu sempurna:
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Qs. At Tiin 4.
Bukankah Abdullah bin Umi Maktum itu seorang yang buta? Tetapi ternyata beliaulah yang menjadi penyebab turunnya surat Abasa.

Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpalilng, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali dia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). Atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang sia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah dia memperhatikannya, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat), yang mulia lagi berbakti. Qs. Abasa 1-16.
Dari sini setidaknya diketahui bahwa meskipun seseorang itu cacat secara fisik tetapi Allah pasti akan memberikan kesempurnaan pada hal yang lainnya. Bukankah tidak sedikit dari orang-orang yang buta namun mereka hafal Al Qur’an secara mutqin dan bersanad?
Adapun bila ada seseorang yang mengungguli ilmu dan amalnya dari Ahnaf maka beliau akan menghormatinya.
Ada perkataan yang kedua, seperti pepatah dalam bahasa Indonesia, “Mengalah bukan berarti kalah”. Kok bisa?
Ya, lihat saja Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dan para muhajirin radliyallahu ‘anhum. Bukankah mereka menghindar dari gesekan dengan para musyrikin Quraisy. Melainkan upaya untuk membangun sebuah masa depan yang lebih cerah. Yaitu dengan cara mencari lahan yang bebas untuk melaksanakan syariat Allah secara keseluruhan alias kaffah.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
