Menggapai Sifat Shiddiq Bagi Setiap Muslim Bag.3
Berbicara masalah shiddiq, ternyata semua para sahabat rasulullah itu memiliki karakter keshiddiqan. Setidaknya sebagaimana firman Allah Ta’ala berikut ini:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. Qs. At Taubah 119.
Kalau hanya melihat satu ayat ini saja maka bisa memiliki makna dan tafsir yang sangat banyak. Tetapi apabila melihat ayat di atasnya, 118, maka akan mendapatkan keterangan yang lebih gamblang.
وَعَلَى الثَّلاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّى إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الأرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ وَظَنُّوا أَنْ لا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلا إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan tobat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. Q.s At Taubah 118.
Ayat ke-119 ini berkaitan erat dengan ayat ke-118. Atau boleh dibilang bahwa ayat ke-119 ini memberikan gambaran/jawaban untuk ayat ke-118.
Adapun tiga orang yang dimaksud dalam ayat 118 itu adalah Kaab bin Malik, Hilal bin Umayyah dan Murarah bin Ar Rabi’, radhiyallahu ‘anhum.

Dalam riwayat (Bukhari dan Muslim) disebutkan bahwa Kaab bin Malik menceritakan perihal yang menimpa dirinya beserta dua sahabat lainnya kepada anaknya. Berikut ini kisahnya;
Setelah menempuh perjalanan panjang Rasulullah dan para pasukan dari para sahabat tiba di Madinah. Seperti biasanya, setibanya di Madinah Rasulullah langsung masuk masjid dan shalat dua rakaat.
Seusai shalat orang-orang yang tidak ikut dalam perang Tabuk datang menghadap Rasulullah dengan memberikan berbagai alasannya. Hingga membuat mereka tidak bisa ikut dalam ekspedisi kali ini.
Semua alasan orang-orang yang tidak bisa ikut berperang bersama Rasulullah ini diterima Rasulullah. Sementara Kaab bin Malik mengatakan bahwa dirinya ahli dalam hal berdebat dan dialog. Seandainya Kaab mau tentu hal itu akan diungkap dihadapan Rasulullah lalu Rasulullah akan menerima alasan yang diberikan.
Tetapi Kaab tidak mau melakukannya. Bahkan Kaab dengan menghadap Rasulullah dengan jiwa ksatria. Kaab berkata bahwa Kaab tidak memiliki alasan apapun untuk tidak ikut perang waktu itu.
Lalu Rasulullah membuang muka seraya bersabda, “Untuk kamu biar nanti Allah saja yang memutuskan”. Dan Rasulullahpun mendiamkan Kaab.
Beriktunya giliran Hilal bin Umayyah dan Murarah bin Ar Rabi’. Ternyata kedua sahabat itu juga perlakukan sama oleh Rasulullah. Karena melihat Rasulullah mendiamkan ketiga sahabat ini maka secara otomatis seluruh sahabat mendiamkan mereka bertiga juga. Lamanya? Berkisar antara 60 sampai 90 hari.
Tidak bisa dibayangkan. Seluruh kota Madinah mendiamkan mereka bertiga. Sampai-sampai Kaab setiap kali selesai shalat belliau segera keluar masjid dan menunggu Rasulullah keluar.
Nah saat keluar Kaab memberikan salam sambil melilhat bibir Rasulullah; apakah bibir Rasulullah komat kamit (karena menjawab salamnya dengan tidak bersuara, pen.). Ternyata tidak sama sekali!!!
Sementara dua sahabat lainnya, Hilal bin Umayyah dan Murarah bin Ar Rabi’, hanya bisa menangis dalam rumah. Karena keduanya termasuk sudah tua usianya dibandingkan Kaab.
Sampai suatu saat Kaab kedatangan utusan agar istrinya pulang dahulu ke orang tuanya selama dalam masa islolasi hukuman ini. Pedih memang.
Di pasar saja ketika Kaab hendak belanja, semua pedagang tidak mempedulikannya. Semua sahabat yang ada di pasar saat ditanya tentang suatu harga barang yang baru saja dibelinya juga mereka diam. Seakan mereka tidak mendengar pertanyaannya Kaab. Subhanallah.
Sampai pada hari yang ke-90. Saat Kaab berada di pinggir pasar. Ada beberapa orang asing yang mencari Kaab. Sementara Kaab sendiri ketika mendengar namanya disebut maka Kaab segera memasang telinganya dengan baik.
Dari jauh Kaab melihat jawaban dari penduduk Madinah yang ditanya orang asing tadi hanya dengan menggunakan isyarat mata saja. Setelah orang asing itu bertemu Kaab mereka menyampaikan surat dari kaisar Romawi.
Kaab segera pulang dan membuka isi surat itu. Dalan surat itu dikatakan bahwa Kaab mendapatkan pihak Romawi menaruh empati kepada Kaab atas musibah yang menimpa Kaab; diisolasi seluruh masyarakat muslim Madinah.
Karenanya mereka menawarkan Kaab untuk keluar saja dari Madinah dan bergabung dengan mereka. Mereka menawarkan jabatan yang menggiurkan; keduniaan!
Selesai membaca surat dari Romawi Kaab langsung membakar surat itu sambil menangis tersedu-sedu. Dalam tangisnya Kaab bahkan berujar bahwa Kaab sangat ridha dengan perlakuan Rasulullah dan para sahabat daripada harus menggadaikan imannya dan bergabung dengan Romawi.
Pada hari ke-90 seusai shalat subuh hati Kaab semakin serasa sesak, karena isolasi ini. Sebagaiamana firman Allah Ta’ala dalam surat At Taubah118 itu.
Tetapi justru saat itulah Kaab mendengar teriakan keras, “Bergembiralah Kaab!” dan segera Kaab bersujud. Kaab segera berlari ke masjid. Di sana Rasulullah dan para sahabat sudah menunggu.
Rasulullah langsung mengucapkan selamat atas diterima taubatnya lalu memeluknya erat. Seketika tangis Kaab pun pecah. Dan setelah Rasulullah melepas pelukannya, seluruh sahabat yang hadir di masjid juga ikut memberi ucapan selamat sambil berpelukan secara bergantian.
Subhaanallah, sungguh mengharukan hari itu.
Ya, itulah shiddiq. Makanya Allah memerintahkan hamba-hambaNya agar shiddiq, sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas.
Wallahu a’lam.
Oleh: Abu Ibrahim

