Dalam sejarah keilmuan Islam, nama Al-Laits bin Sa’ad mungkin tidak sepopuler Imam Malik, Imam Syafi’i, atau Imam Abu Hanifah. Padahal, menurut kesaksian ulama-ulama besar pada zamannya, kedalaman ilmu fikih beliau tidak kalah, bahkan oleh sebagian ulama dinilai melampaui para imam mazhab yang empat. Artikel ini akan mengupas siapa sebenarnya Al-Laits bin Sa’ad, perjalanan keilmuannya, serta warisan akhlak mulia yang beliau tinggalkan bagi umat.
Silsilah dan Kelahiran Al-Laits bin Sa’ad
Nama lengkap beliau adalah Abu al-Harits Al-Laits bin Sa’ad bin Abdurrahman Al-Fahmi Al-Mishri. Beliau lahir pada pertengahan bulan Sya’ban tahun 94 Hijriyah di sebuah kampung bernama Qalqasyandah, Provinsi Qalyubiyyah, sekitar sepuluh kilometer dari Kairo, Mesir. Usia kelahirannya hanya terpaut setahun dengan Imam Malik bin Anas, pendiri Mazhab Maliki yang lahir pada tahun 93 H, sehingga keduanya dikenal sebagai sosok sezaman yang saling menghormati keilmuan satu sama lain.
Riwayat menyebutkan bahwa leluhur Al-Laits berasal dari Mesir, meski ada pula pendapat yang menyebut garis keturunannya berasal dari Persia. Yang jelas, keluarganya memeluk Islam dan mempelajari bahasa Arab sebagaimana penduduk Mesir lainnya pada masa itu. Sejak kecil, Al-Laits telah menunjukkan kecerdasan luar biasa. Ia menghafal Al-Qur’an di usia dini dan memiliki daya ingat kuat terhadap hadits-hadits yang sampai kepadanya.
Perjalanan Menuntut Ilmu

Untuk memperdalam ilmu agama, Al-Laits melakukan rihlah ilmiah (perjalanan menuntut ilmu) ke berbagai pusat keilmuan Islam pada masanya, seperti Madinah, Makkah, dan Syam. Di Madinah, beliau berguru dan menjalin hubungan keilmuan yang erat dengan Imam Malik. Setiap kali menunaikan haji, umrah, atau berziarah ke Masjid Nabawi, Al-Laits senantiasa menyempatkan diri mengunjungi Imam Malik. Selain itu, beliau juga bertemu dan berdiskusi keilmuan dengan Imam Abu Hanifah serta Imam Syafi’i, yang kelak menjadi salah satu murid dekatnya.
Di Makkah, Al-Laits berguru kepada Atha bin Abi Rabah, seorang mufti dan ahli hukum terkemuka pada zamannya. Perpaduan antara pendekatan ahli hadits di Hijaz dan ahli ra’yi (nalar/logika fikih) yang berkembang di Irak membentuk Al-Laits menjadi seorang mujtahid mustaqil, yaitu ulama yang memiliki metodologi dan pendapat keilmuan sendiri, baik dalam ushul fikih maupun fikih itu sendiri.
Sepulang dari menuntut ilmu, Al-Laits mengabdikan hidupnya untuk mengajar di Masjid Al-Fusthath, masjid pertama yang dibangun di Mesir oleh Sahabat Amr bin Al-Ash. Di tempat inilah beliau menghabiskan sisa hidupnya, mendidik generasi demi generasi penuntut ilmu, bahkan hingga usianya menginjak 80 tahun beliau masih aktif mengajar dan berdiskusi bersama murid-muridnya.
Kedudukan Keilmuan yang Diakui Ulama Besar
Keluasan ilmu Al-Laits bin Sa’ad diakui oleh banyak ulama semasanya. Syurahbil bin Jamil bin Yazid pernah bersaksi bahwa meski di Mesir saat itu telah ada banyak ulama besar seperti Ubaidillah bin Ja’far, Ja’far bin Rabi’ah, dan Al-Harits bin Yazid, mereka semua mengakui keutamaan dan sifat wara’ Al-Laits dalam menjelaskan ilmu kepada orang banyak. Ibnu Bakir bahkan menyatakan tidak pernah melihat sosok seperti Al-Laits di antara banyak orang yang ia temui.
Pengakuan paling masyhur datang dari Imam Syafi’i, murid sekaligus penerus sanad keilmuan Al-Laits, yang menyebut bahwa Al-Laits lebih ahli fikih dibandingkan Imam Malik, hanya saja para murid Al-Laits tidak seaktif murid-murid Imam Malik dalam menyebarkan pemikirannya. Karena itulah, meski keilmuannya diakui setara bahkan melebihi para imam mazhab, “Mazhab Laits” tidak berkembang luas dan lambat laun memudar dari catatan sejarah fikih.
Nama Al-Laits bin Sa’ad juga tercatat dalam kitab hadits paling autentik, Shahih Al-Bukhari. Beberapa murid beliau, seperti Yahya bin Bukair, Qutaibah bin Sa’id, Sa’id bin Ufair, Abdullah bin Yusuf, dan Amr bin Khalid, merupakan guru-guru Imam Bukhari yang periwayatannya banyak diambil dalam kitab tersebut. Posisi keilmuan Al-Laits pun sering berada satu atau dua tingkat sanad di atas Imam Bukhari, menjadikannya salah satu mata rantai penting dalam periwayatan hadits shahih.
Kedermawanan yang Melegenda
Selain keluasan ilmu, Al-Laits bin Sa’ad juga dikenal sebagai ulama yang sangat kaya raya sekaligus dermawan. Diriwayatkan bahwa penghasilan beliau setiap tahun mencapai sekitar 5.000 dinar emas, jumlah yang sangat besar pada masanya. Namun kekayaan tersebut tidak membuatnya lalai; sebagian besar hartanya justru dibelanjakan untuk membantu para penuntut ilmu, kerabat, dan masyarakat yang membutuhkan. Kedermawanan Al-Laits bahkan menjadi buah bibir hingga ke berbagai penjuru wilayah Islam pada masanya.
Sifat Wara’ dan Menolak Jabatan Dunia
Meski memiliki pengaruh besar dan dekat dengan penguasa, Al-Laits dikenal sangat wara’ (berhati-hati terhadap dunia). Ketika Khalifah Abu Ja’far menawarinya untuk menjadi penguasa Mesir menggantikan dirinya, Al-Laits dengan rendah hati menolak dan menyatakan dirinya tidak layak untuk jabatan tersebut. Beliau juga pernah ditawari kedudukan sebagai qadhi (hakim), namun kembali menolak dengan penuh kesantunan, dan tawaran tersebut diterima baik oleh khalifah. Sikap ini menunjukkan bahwa ilmu dan kedekatan dengan penguasa tidak menjadikannya haus akan jabatan duniawi.
Wafatnya Sang Imam
Al-Laits bin Sa’ad wafat sekitar tahun 175 Hijriyah dalam usia lebih dari 80 tahun, setelah mengalami sakit selama beberapa hari. Riwayat menyebutkan bahwa Imam Syafi’i, murid dekatnya, berdiri di sisi makamnya dan menyampaikan pujian bahwa Al-Laits telah mengumpulkan empat sifat mulia yang jarang dimiliki ulama lain sekaligus: ilmu, amal, zuhud, dan kedermawanan. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi murid-murid dan masyarakat Mesir yang telah lama merasakan manfaat ilmunya.
Warisan bagi Umat Islam
Kisah hidup Al-Laits bin Sa’ad mengajarkan bahwa kedalaman ilmu sejati selalu berpadu dengan akhlak mulia: kerendahan hati, kedermawanan, dan sikap menjauh dari ambisi jabatan. Meski Mazhab Laits tidak bertahan sebagai mazhab fikih yang berkembang luas, warisan keilmuan beliau tetap hidup melalui sanad-sanad hadits shahih yang diwariskan kepada generasi setelahnya, termasuk dalam Shahih Al-Bukhari.
(Referensi: Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala dan Tadzkirat al-Huffazh; Al-Khathib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad; serta berbagai catatan biografi ulama klasik lainnya.)
Semangat keilmuan dan kedermawanan Al-Laits bin Sa’ad juga bisa menjadi inspirasi bagi kita untuk turut memakmurkan rumah Allah. Salah satu bentuk kontribusi nyata adalah dengan melengkapi kenyamanan tempat ibadah, misalnya melalui layanan jual karpet masjid berkualitas yang mendukung kekhusyukan jamaah saat beribadah. Bagi pengurus masjid atau panitia pembangunan yang sedang mencari referensi, informasi seputar harga karpet masjid juga penting untuk direncanakan sesuai kebutuhan dan anggaran, agar fasilitas masjid semakin nyaman digunakan oleh seluruh jamaah.
