MEMANFAATKAN WAKTU Bag.8

MEMANFAATKAN WAKTU Bag.8

• I’tikaaf (-b-)

I’tikaaf, walau pelaksaannya (sering) hanya dilakukan setahun sekali, di bulan Ramadhan. Tetapi ‘efek’nya sangat luar biasa. Hal terlihat bagaimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam selalu melaksanakannya setiap Ramadhan. Bahkan setelah Rasulullah meninggalkanpun kebiasaan itu kemudian dilanjutkan oleh para istri-istrinya beliau. 

Ya, mereka melakukan itu sebagai bentuk cintanya mereka kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Bentuk cinta yang tidak hanya di bibir melainkan sudah masuk ke dalam tulang sumsum, yaitu yang sampai pada taraf mengikuti apa saja yang dahulu pernah Rasulullah jalani.

Lebih dari itu, sebagai bentuk cintanya kepada syariat Allah. Yakni ketika Allah telah menentukan sebuah syariat (wajibnya berpuasa di bulan Ramadhan dengan berbagai ketentuan dan keunggulannya) membuat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dan para sahabat semakin terpesona. Sehingga mereka menginginkan agar Ramadhan itu terus menerus selama setahun penuh. 

i'tikaf

Tentu hal ini tidak mungkin terjadi. Oleh karenanya Allah Ta’ala ‘meringkas’ keinginan Rasulullah dan para sahabat dengan sebuah amalan ibadah yang harus mereka jalani (yakni setara dengan puasa selama satu tahun penuh); yakni i’tikaaf.

Maka tidak heran menjelang memasuki hari yang ke-21 di bulan Ramadhan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam benar-benar telah mempersiapkannya. Di antaranya beliau mengencangkan ikat pinggangnya. 

Ibunda ‘Aisyah radliyallahu ‘anhuma berkata: Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam apabila memasuki sepuluh hari terakhir, (beliau) mengikat sarungnya (ada yang mengatakan/menyebutkan celemek), menghidupkan malam-malamnya dan membangunkan istri-istrinya (untuk shalat malam)”. 

Ibnu Katsir mengomentari: “mengikat sarung atau celemek” yang dimaksud adalah menjauhi istri-istrinya (tidak menggauli istri-istrinya untuk sementara waktu), tetapi bisa juga bermakna dua sekaligus (benar-benar mengencangkan sarung/celemek dan tidak menggauli istri-istrinya).

Bahkan pada riwayat lain disebutkan bahwa karena sejak masuk ke dalam masjid (karena i’tikaaf) Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam tidak sempat menyisir rambutnya. Sehingga terkadang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam mengeluarkan kepalanya lalu ‘Aisyah radliyallahu ‘anhuma menyisirnya dari luar masjid. 

Jadi orang-orang yang melakukan i’tikaaf benar-benar mereka telah menghidupkan masjid sesuai dengan fungsinya.

لَا تَقُـمْ فِيْـهِ أَبَـدًا، لَّمَـسْجِدٌ أُسِّـسَ عَـلَى التَّـقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَـقُوْمَ فِيْـهِ، فِيْـهِ رِجَالٌ يُـحِبُّوْنَ أَن يَـتَطَهَّـرُوْا، وَاللهُ يُـحِبُّ الْمُطَّـهِّـرِيْنَ.

Janganlah kamu shalat dalam masjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan di atas dasar taqwa (masjid Quba), sejak pertama adalah lebih patut kamu bershalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih. Qs. At Taubah 108.

Wallahu a’lamu bish shawaab.

leader banner alhidayat karpet

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button