Orang jujur itu ada dua jenis; jujur karena lugunya dan jujur karena memang seharusnya.
Tetapi ternyata dari kedua jenis ini Islam lebih mementingkan atau menghargai lebih tinggi orang yang jujur yang seharusnya daripada orang yang jujur tapi lugu. Walaupun orang yang jujur tapi lugu itu memang sangat dibutuhkan.
Apa maksud dari keduanya?
Jujur tapi lugu: ini memang sebenarnya sangat dibutuhkan tetapi apabila yang dimaksud adalah lugu terlalu polos, maka orang yang seperti ini perlu sering didampingi. Lho kok bisa?
Ya, sebab dengan keluguan dan kepolosannya terkadang dia tidak mampu ‘mengerem’ hal-hal yang seharusnya tidak disampaikan kepada orang-orang tertentu. Sebab terkadang justru munculnya persoalan/perkara karena ‘informasi’ yang disampaikan oleh orang yang bertipe seperti ini.
Contoh, ada seseorang yang curhat kepada dirinya tentang seseorang yang (dianggap oleh orang yang curhat) telah mendhalimi dirinya. Atau orang yang curhat itu menceritakan seseorang.

Nah tahu-tahu orang yang jujur tapi lugu dan polos ini mengatakan kepada orang yang dibicarakannya tadi. Dia menyampaikannya secara utuh.
Rupanya justru orang tersebut merasa tersinggung dengan informasi yang didapatkan dari orang yang jujur tapi lugu dan polos itu. Sehingga orang tersebut melabrak orang tadinya curhat kepada orang yang jujur tapi lugu dan polos itu. Dan tentu bila hal ini terjadi maka bisa jadi akan bisa merusak hubungan persaudaraan sesama muslim, bukan?
Padahal seharus hal seperti ini tidak akan terjadi seandainya orang yang jujur tapi lugu dan polos itu menceritakan perihal curhatan temannya tersebut.
Jujur yang seharusnya: yang dimaksud dengan yang seharusnya adalah seseorang yang berbicara atau bertindak tetapi dia selalu melihat keadaan. Seandainya berbicara dengan seseorang maka dia akan tetap menjaga kejujuran namun tidak tidak akan pernah menyinggung sesuatu yang membuat lawan bicaranya tersinggung tetapi tetap dia menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran.
Apalagi apabila dia mendengar seseorang yang berbicara kemudian pada lain kesempatan dia bertemu orang lain yang dia tahu bahwa saat ini dia sedang bersama orang yang berselisih dengan orang yang beberapa waktu lalu. Maka saat berbicara dia sama sekalil tidak akan membicarakan atau mengungkapkan kata-kata/kalimat dari lawan bicaranya yang kemarin. Karena bila dia mengungkapkan perkataan atau perjumpaannya dengan orang yang kemarin maka akan memicu pertentangan atau bahkan perkelahian.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
كَـفَى بِالْمَـرْءِ كَذِبًـا أَنْ يُـحَدِّثَ بِـكُـلِّ مَا سَمِـعَ.
“Cukuplah seseorang itu dikatakan berdusta ketika dia mengatakan semua yang dia dengar”. Shahih Muslim 1/32.
Ya dia tidak dia sampaikan apa-apa yang dia dengar daripada malah memperuncing permusuhan antar kaum muslimin.
Wallahu a’lamu bish shawaab
By: Abu Ibrahim.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
