Kisah Sulaiman bin Yasar: Ulama Tabi’in yang Menolak Godaan Syahwat demi Takwa

Di tengah era modern yang penuh dengan ujian fitnah dan godaan syahwat yang semakin mudah diakses, umat Islam membutuhkan sosok teladan yang mampu membuktikan bahwa ketakwaan sejati bisa mengalahkan hawa nafsu. Salah satu sosok luar biasa dari generasi Salafush Shalih yang patut kita jadikan inspirasi adalah Sulaiman bin Yasar rahimahullah.

Beliau bukanlah nabi atau rasul yang bersifat ma’shum (terpelihara dari dosa), melainkan seorang manusia biasa dari kalangan Tabi’in. Namun, tingkat ketakwaan dan rasa takutnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala membuatnya mampu menorehkan sejarah emas yang dicatat oleh para ulama besar. Artikel ini akan membahas secara mendalam mengenai kisah Sulaiman bin Yasar, keilmuannya, serta bagaimana beliau lolos dari ujian syahwat yang sangat berat.

Siapakah Sulaiman bin Yasar?

Kisah Sulaiman bin Yasar

Sulaiman bin Yasar adalah seorang ulama besar dari kalangan Tabi’in yang lahir pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, tepatnya sekitar tahun 34 Hijriah. Beliau merupakan maula (mantan budak yang telah dimerdekakan) dari Ummul Mukminin, Maimunah binti Al-Harits radhiyallahu ‘anha, salah satu istri Rasulullah ﷺ.

Keberadaannya di lingkungan keluarga Nabi Muhammad ﷺ memberikan dampak yang sangat besar terhadap perkembangan keilmuannya. Sulaiman tumbuh di Kota Madinah, pusat ilmu dan persebaran para sahabat besar pada masa itu. Karena kecerdasan dan ketekunannya, beliau kemudian diakui sebagai salah satu dari Fukaha yang Tujuh (Al-Fuqaha As-Sab’ah) di Madinah. Ketujuh ulama inilah yang menjadi rujukan utama fatwa dan hukum Islam setelah wafatnya para sahabat senior.

Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya yang monumental, Siyar A’lam an-Nubala’, menyebutkan bahwa Sulaiman bin Yasar adalah sosok yang sangat berilmu, terpercaya (tsiqah), dan memiliki kedudukan yang mulia. Beliau banyak meriwayatkan hadis dari tokoh-tokoh besar seperti Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Aisyah, hingga Ummu Salamah.

Selain dianugerahi ilmu yang luas, sejarah mencatat bahwa Sulaiman bin Yasar memiliki anugerah berupa ketampanan fisik yang luar biasa. Wajahnya yang rupawan sering kali menarik perhatian, dan justru dari anugerah inilah beliau mendapatkan salah satu ujian terbesar dalam hidupnya.

Kisah Sulaiman bin Yasar: Menghadapi Ujian di Tengah Perjalanan

Salah satu kisah paling masyhur tentang Sulaiman bin Yasar adalah ketika beliau dihadapkan pada godaan syahwat yang sangat nyata. Kisah ini diriwayatkan oleh para ulama sejarah dan ahli hadis, di antaranya oleh Abu Nu’aim Al-Asfahani dalam kitab Hilyatul Auliya’ dan Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam an-Nubala’.

Dikisahkan bahwa suatu ketika, Sulaiman bin Yasar sedang melakukan perjalanan (safar) dari Madinah menuju Makkah bersama seorang sahabatnya. Saat mereka singgah di sebuah kawasan bernama Al-Abwa, sahabatnya pamit pergi ke pasar untuk membeli makanan dan keperluan mereka, sementara Sulaiman tetap tinggal di dalam kemah untuk menjaga barang-barang bawaan.

Saat Sulaiman sedang sendirian, seorang wanita Badui yang tinggal di sekitar pegunungan tersebut melihatnya dari kejauhan. Terpesona oleh ketampanan Sulaiman bin Yasar, wanita itu pun menghampiri kemahnya. Ia datang dengan penampilan yang sangat menggoda, lalu membuka penutup wajahnya. Sejarah mencatat bahwa wanita tersebut memiliki paras yang sangat cantik jelita.

Wanita itu mendekati Sulaiman dan berkata dengan nada merayu, “Beri aku kenikmatan (berkumpullah denganku).”

Sulaiman bin Yasar, seorang pemuda yang sedang berada di puncak kejantanannya, jauh dari pandangan manusia, dan didatangi oleh wanita cantik yang menawarkan dirinya secara sukarela. Secara logika manusiawi, ini adalah godaan yang sangat sulit ditolak. Namun, apa yang dilakukan oleh sang ulama Tabi’in ini?

Alih-alih tergoda, wajah Sulaiman langsung berubah pucat. Hatinya bergetar hebat mengingat keagungan Allah ﷻ. Ia kemudian menundukkan pandangannya, menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dan mulai menangis tersedu-sedu. Tangisannya bukanlah tangisan biasa, melainkan tangisan ketakutan yang mendalam akan azab Allah jika ia melanggar larangan-Nya.

Melihat respons Sulaiman yang justru menangis hebat, wanita tersebut kebingungan. Usahanya untuk merayu tidak membuahkan hasil, dan karena merasa malu serta tidak nyaman dengan tangisan sang ulama yang penuh rasa takut kepada Tuhan, wanita itu akhirnya menutupi kembali wajahnya dan pergi meninggalkan kemah.

Mimpi Bertemu Nabi Yusuf ‘Alaihissalam

Ketika sahabatnya kembali dari pasar, ia mendapati Sulaiman bin Yasar masih dalam keadaan menangis dan matanya membengkak. Sahabatnya bertanya dengan cemas, “Apa yang membuatmu menangis? Apakah engkau teringat keluargamu?”

Sulaiman menjawab, “Tidak, ada hal lain yang terjadi.” Ia kemudian menceritakan kejadian dengan wanita tersebut. Mendengar cerita itu, sahabatnya pun ikut menangis.

Sulaiman yang heran bertanya, “Mengapa engkau ikut menangis?” Sahabatnya menjawab, “Aku lebih pantas menangis daripada dirimu. Seandainya aku yang berada di posisimu, aku khawatir aku tidak akan mampu menahan godaan wanita itu.”

Kisah ini tidak berhenti di situ. Keutamaan menahan syahwat demi Allah membuahkan kemuliaan yang instan secara spiritual. Pada malam harinya, ketika Sulaiman bin Yasar tertidur, beliau bermimpi melihat seorang laki-laki yang sangat tampan, memiliki perawakan yang luar biasa mempesona.

Dalam mimpinya, Sulaiman bertanya, “Siapakah engkau? Semoga Allah merahmatimu.” Laki-laki itu menjawab, “Aku adalah Yusuf bin Ya’qub (Nabi Yusuf).” Sulaiman pun berkata, “Sesungguhnya kisahmu dengan istri Al-Aziz (Zulaikha) adalah kisah yang sangat menakjubkan.” Nabi Yusuf AS tersenyum dan menjawab, “Bahkan kisahmu dengan wanita di Al-Abwa itu jauh lebih menakjubkan!”

Pujian dari Nabi Yusuf AS dalam mimpi tersebut adalah sebuah bisyarah (kabar gembira) atas keteguhan hati Sulaiman bin Yasar dalam menjaga kesucian dirinya.

Kesesuaian Kisah dengan Hadis Shahih

Sikap yang ditunjukkan oleh Sulaiman bin Yasar sangat selaras dengan sabda Rasulullah ﷺ mengenai golongan manusia yang akan mendapatkan naungan Allah di hari Kiamat.

Dalam sebuah hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: … (salah satunya adalah) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, lalu ia berkata: ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah.'” (HR. Bukhari no. 660 dan Muslim no. 1031).

Sulaiman bin Yasar telah membuktikan kebenaran hadis ini dengan amal perbuatannya. Beliau mempraktikkan langsung rasa khasyyah (takut) kepada Allah di saat tidak ada seorang pun yang mengawasinya kecuali Sang Maha Melihat.

Pelajaran Penting (Ibrah) dari Kisah Sulaiman bin Yasar

Sebagai Muslim di era modern, ada banyak pelajaran berharga yang bisa kita petik dari biografi dan kisah ulama Tabi’in ini:

  1. Rasa Takut kepada Allah (Muraqabatullah): Kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi kita (Muraqabah) adalah benteng terkuat dalam menghadapi maksiat. Saat sendirian, justru di situlah kualitas iman seseorang diuji.
  2. Lari dari Fitnah, Bukan Menantangnya: Sulaiman bin Yasar tidak mencoba berdialog atau menceramahi wanita tersebut saat sedang digoda, beliau justru menutupi wajahnya dan menangis. Ini mengajarkan bahwa terhadap fitnah syahwat, sikap terbaik adalah menghindar dan lari darinya, bukan merasa kuat menahannya.
  3. Ketampanan/Kecantikan adalah Ujian: Anugerah fisik yang menarik bukanlah sekadar nikmat, melainkan ujian. Sulaiman bin Yasar diuji melalui ketampanannya, dan beliau berhasil lulus dari ujian tersebut dengan menjaga kehormatannya.
  4. Pahala Menahan Syahwat: Menahan diri dari sesuatu yang haram karena Allah akan mendatangkan kemuliaan, baik di dunia (seperti pujian Nabi Yusuf dalam mimpi) maupun di akhirat kelak (naungan dari Allah SWT).

Penutup

Kisah Sulaiman bin Yasar adalah monumen ketakwaan dari sejarah keemasan Islam. Beliau wafat pada usia sekitar 73 tahun, pada tahun 107 Hijriah, meninggalkan warisan ilmu fikih dan teladan akhlak yang tak lekang oleh waktu.

Semoga Allah merahmati Imam Sulaiman bin Yasar, dan semoga kita semua diberikan kekuatan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk senantiasa menundukkan pandangan, menjaga kemaluan, dan menanamkan rasa takut kepada-Nya di kala sepi maupun ramai. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

Anda Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button