Pendahuluan
Kisah Nabi Nuh ‘Alaihissalam merupakan salah satu kisah penting dalam sejarah para nabi yang diabadikan dalam Al-Qur’an. Nabi Nuh dikenal sebagai rasul yang memiliki kesabaran luar biasa dalam berdakwah kepada kaumnya yang membangkang. Bahkan, dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa beliau berdakwah selama 950 tahun, sebuah periode yang sangat panjang dalam sejarah dakwah manusia.
Kisah Nabi Nuh ‘Alaihissalam tidak hanya menceritakan perjuangan seorang nabi dalam mengajak umatnya menyembah Allah semata, tetapi juga menggambarkan bagaimana manusia sering kali menolak kebenaran meskipun telah diberikan peringatan yang jelas.
Peristiwa besar yang terjadi pada masa Nabi Nuh adalah banjir besar yang menenggelamkan kaum yang durhaka. Kisah ini menjadi peringatan bagi umat manusia tentang pentingnya iman, ketaatan, dan kesabaran dalam menjalani kehidupan.
Artikel ini akan membahas secara lengkap kisah Nabi Nuh ‘Alaihissalam berdasarkan Al-Qur’an dan hadits shahih, serta pelajaran berharga yang dapat diambil oleh umat Islam.
Nabi Nuh dalam Al-Qur’an

Nama Nabi Nuh disebutkan 43 kali dalam Al-Qur’an dan bahkan terdapat satu surat khusus yang dinamakan Surah Nuh.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan perintah): Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepada mereka azab yang pedih.”
(QS. Nuh: 1)
Ayat ini menunjukkan bahwa Nabi Nuh diutus untuk memberikan peringatan kepada kaumnya agar mereka kembali kepada jalan tauhid dan meninggalkan penyembahan berhala.
Nasab Nabi Nuh ‘Alaihissalam
Para ulama menyebutkan bahwa Nabi Nuh adalah keturunan dari Nabi Adam ‘Alaihissalam.
Nasab beliau adalah:
Nuh bin Lamik bin Mutawasylikh bin Idris bin Yarid bin Mahlail bin Qainan bin Anusy bin Syits bin Adam.
Hal ini disebutkan dalam berbagai kitab sejarah Islam seperti karya Ibnu Katsir dalam Qashash Al-Anbiya.
Nabi Nuh dikenal sebagai salah satu Ulul Azmi, yaitu nabi yang memiliki keteguhan dan kesabaran luar biasa dalam menjalankan dakwah.
Awal Mula Kemusyrikan Kaum Nabi Nuh
Pada awalnya, manusia setelah Nabi Adam masih berada dalam ajaran tauhid. Namun seiring berjalannya waktu, muncul kemusyrikan di tengah masyarakat.
Dalam Shahih Bukhari, Ibnu Abbas menjelaskan bahwa berhala yang disembah oleh kaum Nabi Nuh berasal dari nama orang-orang saleh.
Nama-nama tersebut disebutkan dalam Al-Qur’an:
“Dan mereka berkata: Jangan sekali-kali kamu meninggalkan penyembahan tuhan-tuhan kamu, dan jangan pula meninggalkan Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr.”
(QS. Nuh: 23)
Awalnya, patung-patung tersebut dibuat hanya sebagai pengingat orang saleh. Namun setelah beberapa generasi, manusia mulai menyembah patung-patung tersebut.
Inilah awal mula kesyirikan pertama dalam sejarah manusia.
Dakwah Nabi Nuh kepada Kaumnya
Allah kemudian mengutus Nabi Nuh untuk mengajak kaumnya kembali kepada tauhid.
Beliau berkata kepada kaumnya:
“Wahai kaumku! Sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia.”
(QS. Al-A’raf: 59)
Nabi Nuh mengingatkan kaumnya agar meninggalkan penyembahan berhala dan kembali menyembah Allah.
Metode dakwah Nabi Nuh sangat beragam. Beliau berdakwah:
- Secara terang-terangan
- Secara sembunyi-sembunyi
- Siang hari
- Malam hari
Hal ini disebutkan dalam Al-Qur’an:
“Kemudian sesungguhnya aku menyeru mereka dengan terang-terangan, kemudian aku menyeru mereka secara terbuka dan dengan diam-diam.”
(QS. Nuh: 8-9)
Namun meskipun telah berdakwah dengan berbagai cara, mayoritas kaumnya tetap menolak.
Dakwah Selama 950 Tahun
Salah satu fakta yang paling luar biasa dalam kisah Nabi Nuh adalah lamanya masa dakwah beliau.
Allah berfirman:
“Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di tengah-tengah mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun.”
(QS. Al-Ankabut: 14)
Ayat ini menjelaskan bahwa Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun.
Namun sangat sedikit orang yang beriman kepada beliau.
Dalam beberapa riwayat tafsir disebutkan bahwa jumlah pengikut Nabi Nuh hanya sekitar 70–80 orang.
Ini menunjukkan bahwa keberhasilan dakwah tidak selalu diukur dari jumlah pengikut, tetapi dari kesungguhan dalam menyampaikan kebenaran.
Penolakan dan Ejekan Kaum Nabi Nuh
Kaum Nabi Nuh tidak hanya menolak dakwah beliau, tetapi juga mengolok-olok dan menghina beliau.
Mereka berkata:
“Kami tidak melihat kamu melainkan manusia biasa seperti kami.”
(QS. Hud: 27)
Para pemuka kaum juga menghasut masyarakat agar tidak mengikuti Nabi Nuh.
Mereka bahkan menutup telinga agar tidak mendengar dakwah beliau.
Allah menggambarkan sikap mereka:
“Mereka memasukkan jari mereka ke telinganya dan menutupkan bajunya ke mukanya.”
(QS. Nuh: 7)
Ini menunjukkan kerasnya hati kaum Nabi Nuh dalam menolak kebenaran.
Perintah Allah untuk Membuat Kapal
Setelah ratusan tahun berdakwah tanpa hasil yang signifikan, Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk membuat sebuah kapal besar.
Allah berfirman:
“Dan buatlah kapal itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami.”
(QS. Hud: 37)
Perintah ini tentu sangat aneh bagi kaumnya karena kapal tersebut dibuat di daratan, jauh dari laut.
Ketika kaum Nabi Nuh melihat beliau membuat kapal, mereka semakin mengejeknya.
Namun Nabi Nuh menjawab:
“Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami pun mengejek kamu sebagaimana kamu mengejek kami.”
(QS. Hud: 38)
Tanda Dimulainya Banjir Besar
Setelah kapal selesai dibuat, Allah memberikan tanda akan datangnya azab.
Allah berfirman:
“Hingga apabila datang perintah Kami dan tanur (tungku) telah memancarkan air…”
(QS. Hud: 40)
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa air memancar dari tungku sebagai tanda dimulainya banjir besar.
Allah kemudian memerintahkan Nabi Nuh untuk membawa ke dalam kapal:
- Orang-orang yang beriman
- Sepasang hewan dari setiap jenis
- Keluarga Nabi Nuh yang beriman
Peristiwa Banjir Besar
Kemudian Allah menurunkan hujan yang sangat deras dari langit dan memancarkan air dari bumi.
Allah berfirman:
“Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan air yang tercurah.”
(QS. Al-Qamar: 11)
Banjir tersebut menenggelamkan seluruh kaum yang ingkar.
Air naik hingga menutupi gunung-gunung.
Peristiwa ini dikenal sebagai banjir besar pada masa Nabi Nuh.
Kisah Anak Nabi Nuh yang Tidak Beriman
Salah satu bagian paling menyedihkan dari kisah Nabi Nuh adalah ketika putranya sendiri tidak beriman.
Ketika banjir datang, Nabi Nuh memanggil anaknya:
“Wahai anakku! Naiklah bersama kami dan janganlah kamu bersama orang-orang kafir.”
(QS. Hud: 42)
Namun anaknya menolak dan berkata:
“Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menyelamatkanku dari air.”
(QS. Hud: 43)
Nabi Nuh menjawab:
“Tidak ada yang dapat melindungi hari ini dari azab Allah.”
(QS. Hud: 43)
Akhirnya anaknya tenggelam bersama orang-orang kafir.
Peristiwa ini mengajarkan bahwa hidayah tidak bergantung pada hubungan keluarga.
Berhentinya Banjir dan Berlabuhnya Kapal
Setelah semua orang kafir tenggelam, Allah memerintahkan bumi dan langit untuk menghentikan air.
Allah berfirman:
“Wahai bumi! Telanlah airmu, dan wahai langit! Berhentilah.”
(QS. Hud: 44)
Air kemudian surut dan kapal Nabi Nuh berlabuh di Gunung Judi.
Para penumpang kapal kemudian menjadi generasi baru manusia setelah banjir besar.
Nabi Nuh sebagai Bapak Kedua Umat Manusia
Dalam beberapa tafsir disebutkan bahwa manusia setelah banjir besar merupakan keturunan dari orang-orang yang bersama Nabi Nuh.
Karena itu Nabi Nuh sering disebut sebagai:
“Abu al-Basyar ats-Tsani”
(Bapak kedua umat manusia)
Allah berfirman:
“Dan Kami jadikan keturunannya sebagai orang-orang yang melanjutkan kehidupan.”
(QS. As-Saffat: 77)
Pelajaran dari Kisah Nabi Nuh
Kisah Nabi Nuh mengandung banyak pelajaran berharga bagi umat Islam.
1. Pentingnya Tauhid
Dakwah utama Nabi Nuh adalah mengajak manusia menyembah Allah semata.
Tauhid merupakan inti dari semua dakwah para nabi.
2. Kesabaran dalam Berdakwah
Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun meskipun hanya sedikit yang beriman.
Ini menunjukkan betapa pentingnya kesabaran dalam menyampaikan kebenaran.
3. Kebenaran Tidak Diukur dari Jumlah Pengikut
Walaupun pengikut Nabi Nuh sangat sedikit, beliau tetap termasuk nabi yang mulia.
Hal ini mengajarkan bahwa kebenaran tidak selalu diikuti oleh banyak orang.
4. Hidayah Milik Allah
Anak Nabi Nuh sendiri tidak beriman.
Ini menunjukkan bahwa hidayah sepenuhnya berada di tangan Allah.
5. Bahaya Kesombongan
Kaum Nabi Nuh hancur karena kesombongan dan keengganan menerima kebenaran.
Kesombongan merupakan salah satu sifat yang paling dibenci oleh Allah.
Penutup
Kisah Nabi Nuh ‘Alaihissalam merupakan salah satu kisah paling penting dalam Al-Qur’an yang mengajarkan tentang kesabaran, keteguhan iman, dan bahaya kesyirikan.
Selama 950 tahun, Nabi Nuh dengan penuh kesabaran mengajak kaumnya kepada tauhid. Namun hanya sedikit yang beriman, sementara mayoritas tetap menolak dan mengejek beliau.
Akhirnya Allah menurunkan azab berupa banjir besar yang menenggelamkan kaum yang durhaka.
Peristiwa ini menjadi pelajaran bagi seluruh umat manusia bahwa kebenaran tidak boleh ditolak karena kesombongan.
Bagi umat Islam, kisah Nabi Nuh bukan sekadar cerita sejarah, tetapi juga sumber hikmah yang mengajarkan pentingnya iman, kesabaran, dan keteguhan dalam menjalankan perintah Allah.
Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari kisah Nabi Nuh ‘Alaihissalam dan menjadikannya sebagai motivasi untuk terus berpegang teguh pada ajaran Islam.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Anda Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
